Sebagian orang mengira bahwa untuk menjadi orang besar itu harus selalu menang, dan terdepan.
Namun tahukah anda bahwa sejatinya pola pikir di atas adalah cermin kerdilnya seseorang ?
Orang besar itu merendah ketika menang, berbesar hati ketika kalah, dan merangkul ketika behasil, memaafkan ketika disakiti, dan melupakan kesalahan orang.
Andai anda hanya mau bersatu dengan saudara anda bila seluruh hak anda telah diberikan, dan pelaku kesalahan mengakui kesalahannya, niscaya persatuan hanya akan ada dalam impian anda, alias anda tidak akan pernah bisa bersatu dengan siapapun kecuali dengan diri anda sendiri. Karena ternyata anda sendiri juga berlumuran dengan banyak kesalahan sebagaimana orang lain, sampaipun istri anda juga belepotan dengan kekurangan.
Coba anda camkan; mengapa Al Hasan cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki sebagai pemimpin ummat, padahal ia pada akhir hayatnya justru kehilangan status sebagai Khalifah ? Karena dia lebih memilih untuk mengalah, dan menyerahkan khilafah kepada sahabat Mu’awiyah demi tercapainya persatuan ummat.

Ternyata ummat Islam bisa bersatu dengan kebesaran jiwa pemilik hak yang rela melepaskan haknya dan memaafkan saudaranya, walaupun terbukti salah.
Namun ingat, bahwa yang beliau maafkan dan relakan adalah hak dan kehormatan pribadinya bukan syari’at agamanya.
Adapun kebenaran yang berkaitan dengan halal, haram, dan hukum hukum Allah, maka tidak sedikitpun beliau korbankan.
Jadi, bagaimana ? mau jadi orang besar atau orang kerdil ?
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar:

Post a Comment

Copyright © 2019.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Jumlah Pengunjung

Follow by Email

Blog Archive

Anda Pengunjung Online

Followers