Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Mendidik anak-anak, bukanlah sekedar memberikan pengetahuan bekal agama. Mengajarkan perkara iman kepada anak belumlah cukup, apalagi hanya aturan-aturan agama (seperti halal, haram, syubhat, dll.)“Itu bukan berarti menyepelekan. Karena urutannya adalah, iman dulu, aqidah, adab, barulah yang lain-lain



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

 

Sangat disayang, jika ternyata Al-Quran yang penuh dengan keberkahan itu kita abaikan karena kepentingan pekerjaan, Al-Quran dianggap tidak lebih penting dari pekerjaan,  Na’udzubillah. Padahal, seandainya Kebrkahan alquran itu ditampakkan mungkin  yang bisa kita lihat adalah keberkahan itu  megalir kesemua arah, tidak hanya berupa pahala yang dijanjikan pada pembacanya, tapi reaksi berkah yang didapat dari Al-quran itu mengalir juga keurusan dunia kita, termasuk urusan pekerjaan kita



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Seiring dengan banyaknya kesibukan duniawi, khusyu’ dalam shalat menjadi sesuatu yang amat sulit dicapai. Padahal shalat adalah induknya seluruh ibadah, yang bila ia baik maka baiklah ibadah-ibadah lainnya. Namun bila ia rusak karena tidak khusyu’ umpamanya, maka ibadah-ibadah lainnya akan terpengaruh. Berikut ini adalah tips sederhana yang insya Allah dapat membantu anda untuk khusyu’ dalam shalat. Skan tetapi kuncinya ialah konsentrasi, konsentrasi, dan konsentrasi. Tips ini takkan berguna jika sedari awal anda tidak konsentrasi pada shalat.
Karenanya, usahakan agar sebelum shalat anda dalam kondisi tenang. Lebih baik jika Anda telah berada di mesjid atau mushalla anda sebelum adzan berkumandang, agar memiliki waktu luang untuk konsentrasi dan menenangkan pikiran, baru kemudian ikuti tips di bawah.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Jika kita melihat contoh orang-orang terdahulu, contoh para ulama salaf, barangkali kita akan tercengang. Bagaimana tidak? Sungguh menakjubkan amal yang mereka lakukan. Semangat mereka amat luar biasa. Kontinuitas mereka dalam beramal selalu terjaga. Di antara buktinya adalah kisah-kisah berikut ini.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Islam dengan syari’atnya yang agung memerintahkan seluruh bentuk perilaku yang baik dalam pergaulan dengan sesama manusia. Apapun yang layak dilakukan terhadap orang lain maka diperintahkan. Di antaranya ialah agar seseorang bersikap lapang menghadapi perilaku sesamanya. Ini salah satu bentuk perilaku baik yang dianjurkan oleh Islam. Ialah menjadikan sesuatu yang dirasa melapangkan jiwa dan memudahkan perkara untuk ditunaikan dan disikapi maka itulah yang dikehendaki oleh syari’at Islam. Seseorang tidak boleh membebani diri sendiri maupun orang lain dengan sesuatu yang tidak sanggup ditanggung oleh tabiat jiwanya.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Lingkungan atau alam tempat kita berpijak, tempat kita mengais kehidupan di dunia sangat urgen bagi pendidikan dan pembentukan karakter anak. Mengapa hal ini terjadi? Karena pendidikan dan pembentukan karakter anak dimulai dari keluarga, sedangkan ruh dan ethos keluarga dipengaruhi oleh pengetahuan dan kondusifitas lingkungan atau alam. Semakin baik nilai keilmuan dan lingkungan yang kondusif atau alam semakin positif pula karakter anak, dan sebaliknya, semakin kurang nilai keilmuan dan kondusifitas lingkungan atau alam, semakin negatif karakter anak yang diperoleh. Jadi, faktor keluarga dan lingkungan saling bersinergi dan saling memberikan pengaruh.
Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan misalnya, bermain di alam dapat mengembangkan potensi anak dan menumbuhkan kecerdasan naturalis (intelegensi yang dibutuhkan manusia agar memiliki rasa kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan), di mana anak lebih mudah belajar karena melihat dan mengalami secara langsung. Lebih melekat dan belajar secara efektif. Mampu memancing keingintahuan anak dan melakukan eksplorasi untuk mencari informasi melalui buku, serta membangun minat anak untuk mempelajari lebih mendalam dan menjadi ahli di bidangnya.
Berbeda halnya dengan menjadikan sebuah materi hanya sebatas materi pelajaran yang langsung jadi, yang harus dihafalkan oleh anak didik. Akibatnya, anak didik seringkali menjadikan pelajaran-pelajaran tersebut sebagai momok yang membebani pemikiran mereka.
Namun, yang sangat disayangkan, kerusakan fungsi alam dan melemahnya daya lingkungan akhir-akhir ini semakin parah. Sebenarnya, di negara kita ini memiliki kekayaan sumberdaya alam dan daya dukung lingkungan hidup yang luar biasa. Namun perilaku masyarakat yang salah dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan daya dukung lingkungan membuat masyarakat sengsara dan tidak sejahtera. Perilaku masyarakat yang salah telah menyebabkan luas hutan makin menyusut, kawasan tangkapan air makin berkurang, cadangan air tanah makin langka, sementara itu di musim hujan air sungai meluap menimbulkan banjir, tanah longsor dan banyak kerugian lainnya yang diderita masyarakat. Tentunya, sedikit banyak, hal ini berpengaruh terhadap pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Bagaimana solusinya?
Di antara solusinya adalah memperbaiki kualitas keluarga, karena keluarga dipandang berperan besar untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap alam, lingkungan dan satwa liar terhadap anak. Ketika keluarga sebagai agent of value mampu menanamkan nilai tersebut maka anak juga dapat bersikap lebih menghargai terhadap alam dan satwa liar.
Kualitas keluarga bisa ditingkatkan degan mengikrarkan bahwa rujukan utama dalam membina rumah tangga adalah islam, maka di antara perwujudannya adalah meyakini bahwa Islam adalah bak mata air yang jernih, sumber belajar akidah, akhlak, adab bermuamalah, dan sumber petunjuk dalam segala hal sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam firman-Nya,
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya,  dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al An’am: 162-163)
Menjadikan islam sebagai rujukan utama dalam membina keluarga, berarti juga merealisasikan seluruh ajaran-ajaran islam, di antaranya islam sangat menganjurkan kaumnya untuk melestarikan alam atau lingkungan.
Di antara bukti-bukti bahwa islam mengajarkan umatnya untuk menjaga alam sekitar dan lingkungan alam yang kondusif adalah firman Allah,
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”  (A’raf: 56)
Asy Syaukani – rohimahulloh – menjelaskan makna ayat tersebut, “Allah melarang manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi ini (baca lingkungan) dengan bentuk kerusakan apapun, besar ataupun kecil. Di antara contoh kerusakan adalah membunuh, merusak atau menghancurkan rumah-rumah tempat tinggal, menebangi pohon, merusak saluran air, dan di antara bentuk kerusakan di bumi adalah terjatuhnya seseorang dalam kekufuran dan  kemaksiatan” (Fathul Qadir, 1/47)
Bahkan, saat kaum muslimin menaklukkan suatu negeri, mereka di larang untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk atau merusak pepohonan yang ada kecuali untuk maslahat tertentu. Al Auza’i berkata, “Abu Bakar melarang pasukan kaum muslimin untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk suatu negeri atau menebang pepohonan yang ada” (Tuhfadzul Ahwadzi 5/133)
Bukti yang lain adalah para ulama menyebutkan dalam buku-buku fikih, terlebih khusus di dalam bab berburu, disebutkan bahwa menjadikan burung hanya sebagai sasaran untuk berlatih ketepatan membidik, hal itu dilarang. (Subulus Salam)
Beberapa hal di atas, cukup menjadi bukti bahwa Islam sangatlah menganjurkan kaumnya untuk melestarikan alam atau lingkungan. Merusak lingkungan atau alam berarti telah melanggar perintah Allah, sedangkan pelanggaran pasti berakibat buruk kepada pelakunya, baik langsung maupun tidak langsung.
Bagaimana melestarikan lingkungan?
Untuk melestarikan lingkungan ada lima prinsip yang harus dilakukan dan ditanamkan kepada anak-anak kita, yaitu:
Pertama: Reduce (mengurangi), yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan sampah, hindari penggunaan sumpit bambu, penggunaan kotak makanan Styrofoam dan barang sekali pakai lainnya.
Kedua: Reuse (memanfaatkan kembali), yaitu menggunakan kembali barang-barang yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya.
Ketiga: recycle (daur ulang), yaitu mengolah kembali sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.
Keempat: rethink (menimbang ulang), yaitu menimbang kembali barang-barang yang akan dibeli apakah memang merupakan kebutuhan atau keinginan?
Kelima: repair (memperbaiki), yaitu memperbaiki barang-barang yang rusak agar bisa digunakan lagi.
Bukti kerusakan alam
Akibat paling nyata dari perilaku masyarakat yang salah dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan adalah sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia dalam keadaan kritis. Menurut data Departemen Kehutanan (2008), sebanyak 39 DAS di Indonesia dalam keadaan kritis, di mana 42% berada di Jawa dan 25% di Sumatra. Kenyataan lain yang mengkhawatirkan adalah lebih dari 70% penduduk Indonesia menggunakan air yang diambil dari sumber yang kemungkinan besar sudah tercemar.
Untuk meningkatkan ketersediaan air bersih bagi masyarakat dibutuhkan dana yang sangat besar. Laporan menyebutkan bahwa pemerintah membutuhkan dana sekitar 60 triliun sampai 2015 untuk meningkatkan kapasitas air minum dari 98.000 m3 menjadi 392.000 m3 per detik guna melayani 80% penduduk. Paling tidak setiap tahunnya harus tersedia dana 7,5 triliun untuk mencicil pembangunan fasilitas infrastuktur air minum yang mencapai 60 triliun tersebut.
Contoh lainnya, laju kehilangan dan kerusakan hutan pada tahun 2000 – 2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan sepak bola/jam. Mengapa ini terjadi? K, setiap hari sampah kertas di seluruh dunia berasal dari 27 ribu batang kayu. Setiap 1 pohon berusia 10 tahun menghasilkan 1,2 kg O2/hari. Bayangkan 27 ribu pohon per hari yang ditebang, berarti ada 32.400 kg O2 yang hilang per hari. Sementara, jumlah pertambahan penduduk dan peningkatan polusi lingkungan bergerak dengan sangat cepat.
Untuk itu, sudah semestinya kita lakukan pendidiakan lingkungan berdasar syariat islam. Kita mulai pendidikan tersebut dari keluarga kita. Dan yang lebih penting, hendaknya kita melakukan tindakan nyata demi menjaga kelestarian lingkungn kita. (***)

Penulis: Agus Abu Aufa, Lc
Rubrik “Fikih Keluarga” Majalah Nikah Sakinah, Vol. 9 No. 10 :: Januari 2011


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Muhtar Arifin, Lc

Kehidupan di dunia yang amat singkat ini adalah merupakan bagian dari perjalanan manusia yang amat panjang. Meninggal dunia adalah perkara yang pasti. Setelah itu dilanjutkan dengan tinggalnya seseorang di alam kubur sampai tegaknya hari kiamat. Dalam kubur, terdapat suatu adzab yang tersendiri, di antaranya yaitu pukulan yang dahsyat, himpitan tanah sampai tulang rusuknya berselisih, panas yang memenuhi ruang kuburnya, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih. Dalam masa penantian ini, tentu saja setiap orang menginginkan untuk selamat dari adzab yang ada dalam kuburnya. Semoga Allah melindungi kita semua dari adzab kubur.
berikut ini adalah beberapa perkara yang dapat menyelamatkan seseorang dari adzab kubur, antara lain yaitu[1] :
1. Membaca Surat Tabarak Setiap Malam. Hal Itu Berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Surat Tabarak adalah pelindung dari Adzab Kubur.”[2]
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Barangsiapa yang membaca Tabarakalladzi Biyadihil Mulku setiap malam, maka Allah Ta’ala akan menahannya disebabkan oleh bacaan tersebut dari adzab kubur. Kami -pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya al-Mani’ah (penahan). Ia dalam Kitabullah adalah sebuah surat yang barangsiapa membacanya dalam suatu malam, maka dia telah banyak dan berbuat baik.[3]

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam
Umar bin Al Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab…”. Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam sunannya.

Ketahuilah saudaraku, muhasabah diri adalah amal yang amat mulia yang dapat membawa pelakunya kepada jalan yang diridhai oleh Allah Ta’ala.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: “Sesungguhnya seorang hamba akan senantiasa baik selama ada yang memberinya peringatan dari dirinya, dan berusaha untuk selalu bermuhasabah”.
Demikian pula yang dinyatakan oleh Maimun bin Mihran rahimahullah: “Seorang hamba tidak menjadi bertaqwa sampai ia benar-benar memuhasabah dirinya lebih ketat dari muhasabah seorang pebisnis kepada patnernya”.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Jiwa dan pemiliknya bagaikan dua orang yang bekerjasama untuk berbisnis dalam sebuah syarikah (Perusahaan Terbatas/PT) dimana tidak sempurna kerjasama antara keduanya kecuali dengan empat perkara”:
Pertama: Memberikan syarat-syarat dalam segala macam kebijakan yang diambil patnernya.
Kedua: Mengetahui apa sepak terjang patnernya, membimbing dan mengawasinya.
Ketiga: Memuhasabahnya.
Keempat: Mencegahnya dari perbuatan khianat.
Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya memberi syarat kepada ketujuh anggota tubuhnya. Semuanya merupakan modal utama untuk menghasilkan keuntungan yang baik. Jika orang yang tidak memiliki modal, maka bagaimana mungkin berharap keuntungan.
Tujuh anggota itu adalah: mata, telinga, mulut, lisan, kemaluan, tangan dan kaki. Menjaga tujuh anggota tubuh ini adalah asas segala kebaikan dan melalaikannya adalah asas segala keburukan.
Apabila kita telah memberi persyaratan, maka melangkah kepada tindakan selanjutnya yaitu mengetahui apa sepak terjangnya, membimbing dan mengawasinya. Perlu dicatat, jangan pernah sekali-kali melalaikannya, karena suatu ketika ketujuh anggota tubuh tersebut akan berkhianati
Ketika telah terasa adanya kekurangan, maka melangkah kepadill tindakan selanjutnya yaitu muhasabah. Tujuannya adalah untuk mengetahu keuntungan dan kerugian dari seluruh aktifitas ketujuh anggotatubuh tersebut.
Satu hal utama yang perlu diingat adalah, jika ia bersungguh-sungguh dalam mengawasi dan memuhasabah jiwanya di dunia ini, maka ia akan beristirahat kelak di hari akhirat. Sebaliknya, jika ia lalai maka hisabnya di hari akhirat semakin berat.

Tempat Muhasabah

Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa muhasabah hendaknya dilakukan di dua waktu. Yakni sebelum beramal dan setelah beramal. Hal ini sangat perlu, agar amal yang akan dilakukan bermanfaat dan menghasilkan pahala.
Sebelum beramal, periksalah selalu niat dan tujuan dalam melakukan sesuatu. Prinsip yang baik adalah tidak tergesa-gesa sampai melihat apakah perbuatan tersebut lebih berhak dilakukan ataukah ditinggalkan.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak ketika berniat untuk melakukan sesuatu; jika ternyata ikhlas karena Allah, ia segera melanjutkan, dan jika ternyata bukan karena Allah, ia mundur”.
Setelah beramal, sebaiknya memperhatikan tiga perkara berikut:
a. Mengevaluasi diri, apakah ketaatan yang telah dilakukan masih terdapat kekurangan-kekurangan. Perlu diperhatikan bahwa hak Allah dalam ketaatan ada didalam enam perkara, yaitu: Ikhlas, melakukannya dengan sebagus-bagusnya, mengikuti contoh Rasul, persaksian ihsan, persaksian ni’mat Allah, dan melihat kekurangan yang ada padanya.
b. Menghisab diri terhadap semua perbuatan yang lebih baik ditinggalkan dari pada dilakukan.
c. Bermuhasabah terhadap perbuatan yang mubah yang biasa dikerjakan. Yakni dengan cara bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia lakukan? Apakah mengharapkan keridhaan Allah, ataukah mengharapkan kehidupan dunia belaka?
Dengan cara-cara di atas, seorang hamba dapat melakukan muhasabah yang benar. Pertama, ia menghisab dirinya dalam amalan yang wajib. Jika ia ingat ada kekurangan padanya, ia segera memperbaikinya dengan cara qadla atau yang lainnya. Kedua, ia menghisab dirinya dalam perbuatan yang terlarang. Jika ia mengetahui bahwa ia telah melakukan sebuah dosa, ia segera bertaubat dan memohon ampun dan beramal kebaikan.
Selain itu, dengan cara-cara tersebut hamba Allah selalu sempat untuk menghisab kelalaiannya. Jika dirinya telah lalai dari tujuan penciptaannya, maka ia segera mengingat Allah dan kembali kepada-Nya. Kemudian ia menghisab ucapan-ucapannya, yang dilakukan oleh kedua kaki dan tangannya, dan yang didengar oleh telinganya. Selalu bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang diinginkan dari semua itu?
Karena siapa? Bagaimana caranya?
Sebagai seorang muslim yang baik, senantiasa dan sudah sepatutnya mengetahui bahwa setiap gerakan dan ucapan akan ditampakkan padanya dua pertanyaan: Karena siapa kamu melakukan dan bagaimana caranya? Yang pertama adalah pertanyaan tentang ikhlas dan yang kedua adalah pertanyaan tentang mutaba’ah (sesuai dengan yang dicontohkan Nabi atau tidak).
Seperti yang dinyatakan oleh firman Allah: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semue, Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS AI Hijir: 92-93).

Manfaat Muhasabah

Saudaraku, orang yang senantiasa bermuhasabah, ia akan dapat melihat aib-aib dirinya, dan tidak akan disibukkan melihat aib-aib orang lain. Jika perilaku ini sudah terbentuk, maka ia akan senantiasa tawadlu’ dan tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Ayyub As Sikhtiyani berkata: “Apabila disebut orang-orang shalih, aku serasa paling rendah”. Daud Ath Thaai ketika dipuji berkata: “Jika manusia mengetahui sebagian kesalahan yang ada pada diriku, pasti lisan mereka akan bungkam untuk menyebutkan kebaikanku”.
Muhasabah akan menimbulkan taubat dan penyesalan atas dosa yang telah berlalu, dan akan senantiasa menjadikan pelakunya selalu berintrospeksi diri: Apakah sudah melaksanakan dengan sebaik-baiknya hak-hak Allah?
Berbeda dengan orang yang kurang bermuhasabah, ia hanya akan memperhatikan hak dirinya saja, dan tidak peduli dengan hak Allah, Perilaku ini biasanya akan menghalanginya untuk mencintai Allah sehingga ia tidak merasakan kelezatan ketika berdzikir kepada Allah. Inilah penyakit kronis yang dapat membinasakan seorang hamba. Allahul musta’an.
Seperti yang diungkapkan Ibnu Qayyim rahimahullah: “Manfaat muhasabah yang paling baik untuk hati adalah memperhatikan hak Allah atas hamba-Nya. Sehingga, seorang hamba akan selamat dari ‘ujub. Ia pun senantiasa memperhatikan amalnya, bahkan membuka pintu ketundukan di hadapan sang Pencipta. Ia juga akan sangat yakin bahwa keselamatan dirinya hanya mungkin diraih semata-mata dengan ampunan dan kasih sayang dari Allah Ta’ala.
Sayang, kebanyakan manusia hanya memikirkan hak dirinya sendiri dan tidak pernah memperhatikan hak Allah. Padahal muhasabah jiwa hakikatnya adalah perhatian hamba kepada hak Allah.
Pemahaman ini Insya Allah akan membawa hati kita kepada Allah dan menjadikannya bersimpuh di hadapan-Nya. Hati kita senantiasa akan dipenuhi dengan ketundukan dan rasa butuh kepada kekayaan-Nya. Ketundukan adalah sebuah sikap kemuliaan bagi manusia sebagai hamba Allah.
Betapa pentingnya muhasabah untuk kehidupan hamba. Renungkanlah, bahwa kebinasaan akan menimpa manusia jika dirinya melalaikannya. Orang yang tertipu adalah jika selalu memejamkan matanya terhadap perilaku buruk yang selalu dilakukan.
Ia berjalan tanpa berfikir dan hanya mengandalkan ampunan dan maafnya Allah Ta’ala semata. Orang dengan keadaan seperti ini, pasti amat mudah melakukan dosa, bahkan merasa betah dan sulit meninggalkannya. Semoga kita terlindung darinya. Amiin.
Rujukan: kitab Ighatsatulahfan karya Ibnu Qayyim Rahimahullah.
- shalihah.com -

Sumber: Majalah Qalam, Edisi 1 / Oktober 2010



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Copyright © 2020.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Jumlah Pengunjung

Blog Archive

Anda Pengunjung Online

Followers