Showing posts with label Al Qur;an. Show all posts
Showing posts with label Al Qur;an. Show all posts
Siapa itu Sabi’in?
Siapa itu shabi’in? mohon penjelasan.. mengapa mereka bisa masuk surga, sementara orang musyrik tidak?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Dalam al-Quran, kata shabi’in disebutkan 3 kali:
[1] Firman Allah di surat al-Baqarah:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 62)
[2] Firman Allah di surat al-Maidah:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Maidah: 69)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Renungan

Imam Al-Bukhori rahimahullah telah menyusun di dalam kitab shahihnya suatu bab berjudul
العلم قبل القول والعمل
“Berilmu sebelum berucap dan beramal” [1]
Hal ini menunjukkan kepada kepada kita bahwa semua itu ada ilmunya. Oleh karena itulah benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i rahimahullah :
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا عَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ عَلَيْهِ بِالْعِلْمِ.
Barangsiapa yang menginginkan kesuksesan dunia maka dia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat maka ia juga harus berilmu.” (Majmu’ Syarh al-Muhadz-dzab, karya an-Nawawi dan Mawa’izh al-Imam asy-Syafi’i, karya Shalih Ahmad asy-Syami). [2]
Lha, untuk masalah dunia saja ada ilmunya, bagaimana lagi dengan masalah memahami Al-Quran dan memahamkannya? Menafsirkan Al-Quran dan menerjemahkannya? Tentu lebih-lebih lagi.  Oleh karena itu, berangkat dari keinginan mengamalkan firman Allah,


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more

Akhwatmuslimah.com – Beberapa waktu yang lalu saya membaca tips Tahfizh atau menghafal al quran dalam 10 menit yang ditulis oleh ustad Syahid Abdul Qadir S.Sos. Tahfizh 10 menit, apa benar bisa? jawabnya tentu bisa asalkan ada kemauan, tekad yang kuat dan rajin. Tidak ada istilah mustahil karena sesungguhnya Allah telah memudahkan al quran untuk di ambil pelajaran.
Antum semua tentu tahu kalau waktu yang kita gunakan di dunia ini akan di hisab, Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Tidaklah berdiri tegak kedua kaki hamba Allah sehingga ia ditanya tentang 4 hal; umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan,dan ilmunya bagaimana ia mengamalkannya. ..”
Karenanya saya ketengahkan cara ini untuk antum-antunna, kepada mereka yang menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan hanya mengisi dengan menyanyikan lagu-lagu syahwat, menonton film serta berleha-leha tanpa membawa sedikit pun manfaat…
Lalu bagaimana cara yang di sajikan oleh ustad Syahid Abdul Qodir ini, berikut ini   saya jelaskan ringkasan langkah-langkah menghafal 10 menit;
Menghafal Al-Quran 10 menit yang dimaksud adalah menggunakan waktu 10 menit setelah sholat fardu lima waktu.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more

Beberapa Mahad dan Sekolah di Seputaran Brebes Tegal
1. TQLA Masjid Al Mu’minun
( Madrasah Diniyah Tahfidz Qur’an, Kursus Bahasa Arab, Tahsin Tilawah dan Kajian
2. Pondok Pesantren Imam Syafii Sigempol Brebes
( untuk tingkat SLTP , SLTA –Tahfidz-) dan Idad Muhafidz
( Gratis SPP dan Uang Makan khusus Idad Muhafidz )
3. TK ,PAUD, SD Imam Syafii
( Kaligangsa Kulon Brebes )
4. Mahad Masjid Adzdzaki Pakijangan Bulakamba Brebes
(Program Tahfidz dan Tadribuddu’at dan kajian kajian – Gratis SPP, Uang Makan, Kitab-Kitab dan ada uang saku untuk program tadribuduat )
5. Villa Sakinah Pebatan Brebes
Kursus Bahasa Arab, Iqro, Tahsin Tilawah, dll – kursus masak juga bisa--
( kalau ini dirumah ane sendiri...... Gratis tis tis )
Daerah Tegal
6. SDIT Mutiara Sahabat Margadana Tegal
7. PAUD , dan TK Mutiara Sahabat Kemandungan Tegal
8. Mahad Riyadhushsholihin dan Radio Sahabat Muslim , Kademangaran Dukuhturi
( Program I’dad Du’at , kursus Bahasa Arab, Kajian, dll )
Silahkan bagi Ikhwah sekalian yang melintasi Pantura melewati Brebes Tegal mampir sekedar istirahat dan bersilaturrahmi dengan kami....Karena beberapa tempat diatas di tepi / deket dengan jalan Pantura mulai dari Mahad Adzaki Pakijangan 500 m sebelah barat Pasar Bulakamba tepi utara jalan pantura, Villa Sakinah ( Rumah Ana ) sebelum jembatan Kali pemali sekitar 200 m selatan jalan Pantura, SD Imam Syafii tepi utara jalan Pantura Barat Kota Brebes, dan SDIT Mutiara sahabat tepi utara jalan Pantura Timur Kota Tegal....


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Tanya:
Mo tanya: Kapan waktu berhubungan intim yang sesuai ajaran islam. Trim’s. Itu saja.
Maksih ya Tad.
Dari: Gedang sobo
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, ada keadaan dimana seorang suami dianjurkan untuk mendatangi istrinya. Keadaan itu adalah ketika suami tidak sengaja melihat wanita dan dia terpikat dengannya. Anjuran ini berdasarkan hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Pertanyaan:
Beberapa org kesulitan baca alif lam mim, kaf-ha-ya-ain-shad, dan ayat-ayat semisalnya. Bisakah ustad jelaskan cara dan teori mmbacanya yg mudah!

Terima kasih
Dari: Abdullah
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Ada 2 teori untuk memudahkan memahami huruf semacam ini:
Pertama, huruf-huruf hijaiyah di awal surat (Mafatih As-Suwar) disebut dengan huruf muqatha’ah. Muqatha’ah secara bahasa artinya terputus-putus. Disebut huruf muqatha’ah karena huruf ini dibaca secara terputus-putus, sehuruf demi sehuruf, dan tidak bersambung.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum ustadz
Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan mengenai terapi menggunakan Alquran namanya HSQ 368. Salah satu yang saya pahami dari pelatihan tersebut adalah membaca 1 juz tertentu di dalam hati (tanpa mengeluarkan suara dan tidak menggerakkan bibir) seminggu sekali selama 4 minggu untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Misalny kalau ada penyakit yang berkaitan dengan kepala, maka baca juz 1 berulang-ulang dengan metode yang saya sebutkan sebelumnya.
Bagaimana hukumnya ustadz? bolehkah diamalkan?
Dari: Arizka Diskon


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Pertanyaan:
Saya mengenal seseorang yang suka membeli mushaf untuk diberikan kepada masjid. Apa ganjaran dari amalan ini? Karena saya mendengar dari beberapa orang bahwa amalan tersebut ada asalnya dari hadits yang bunyinya:
مَن وَرَّثَ مُصْحفًا
barangsiapa mewariskan mushaf…”
namun saya tidak pernah mendengar apa ganjaran dari amalan tersebut.
Semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kita bersama Nabi kita di telaganya, semoga Allah membalas kebaikan anda.
Syaikh Khalid Abdul Mun’im Ar Rifa’i menjawab:


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
Oleh: Badrul Tamam
Kalau kita perhatian dalam kehidupan Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kita dapatkan beliau tidak pernah berhenti dari mengingat dan membicarakan neraka. Pada setiap pagi dan sore hari, beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berhenti berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari neraka. Contohnya nyatanya kita dapatkan dalam dzikir pagi dan sore hari, di dalamnya terdapat isti’adzah (doa mohon perlindungan) kepada Allah dari neraka. Yaitu:
أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ  لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا اليَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذَا اليَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah. Dan segala puji bagi Allah, tiada tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Kepunyaan-Nya kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuas atas segala sesuatu. Ya Rabbi, aku memohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya, aku juga berlindung kepada-MU dari keburukan di hari ini dan keburukan sesudahnya. Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua (pikun). Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari adzab di neraka dan adzab di kubur.” (HR. Muslim)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more

Lahn adalah suatu kesalahan atau kondisi yang menyimpang dari kebenaran. Kesalahan itu dibagi menjadi dua jenis:
1) Jali (besar) yaitu kesalahan yang terdapat dalam lafazh dan mempengaruhi tata cara bacaan, baik itu mengubah arti atau tidak mengubahnya. Dinamakan “kesalahan besar” karena kesalahan ini diketahui oleh ulama qiro’ah maupun orang awam, seperti:
a. Perubahan huruf dengan huruf
Seharusnya اَلْمُسْتَقِيْمَ dibaca اَلْمُصْتَقِيْمَ
Seharusnya اَلَّذِيْنَ dibaca اَلَّزِيْنَ
Seharusnya اَلضَّالِّيْنَ dibaca اَلظَّالِّيْنَ
Seharusnya اَلْمَغْضُوْبِ dibaca اَلْمَقْضُوْبِ
b. Perubahan harokat dengan harokat
Seharusnya قُلْتُ dibaca قُلْتِ
Seharusnya رَبِّ dibaca رَبُّ
Seharusnya أَنْعَمْتُ dibaca أَنْعَمْتِ
Seharusnya لَمْ يَلِدْ dibaca لَمْ يَلِدُ
c. Penambahan huruf
Seharusnya مَنْ كَانَ dibaca مَانْ كَانَ
Seharusnya مِنْكُمْ dibaca مِينْكُمْ
d. Penghilangan tasydid
Seharusnya عَرَّفَ dibaca عَرَفَ
Seharusnya بَدِّلْ dibaca بَدِلْ
e. Penambahan tasydid
Seharusnya فَرِحَ dibaca فَرِّحَ
Seharusnya مَرَجَ dibaca مَرَّجَ
f. Penghilangan bacaan panjang


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
read more
ADAKAH AYAT AL-QUR'AN YANG MANSUKH?


Soal:
Ringkasan pertanyaan:
1. Adakah nasikh mansukh dalam Al-Qur’an?
2. Bagaimana makna ayat 27 surat Al-Kahfi dan ayat 42 surat Al-Fushilat?
3. Bagaimana ucapan Abu Muslim Al-Ashfahani: لَيْسَ فِيْ الْقُرْآنِ آيَةٌ مَنْسُوْخَةٌ
“Di dalam Al-Qur’an tidak ayat yang mansukh!”.
4. Benarkah pendapat “tidak ada nasikh mansukh dalam Al-Qur’an” adalah pendapat golongan Mu’tazilah?

Adli Shidqi bin Minghat
Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung
JL. Pajagalan, no: 14-16, Bandung 40241

Jawaban.
1. Adakah nasikh mansukh dalam Al-Qur’an?
Nasikh dan mansukh dalam Al Qur’an itu ada. Dan untuk melengkapi jawaban ini, silahkan simak Rubrik Fiqih edisi 3 ini.

2. Bagaimana makna ayat 27 surat Al-Kahfi dan ayat 42 surat Al-Fushilat?

Jawab:
Ayat 27 surat Al-Kahfi yang dimaksudkan berbunyi: لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ
Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. [Al Kahfi :27]

Yaitu kalimat-kalimat Allah yang ada dalam Al-Qur’an tidak akan ada seorangpun yang dapat merobahnya dan menggantinya. Dan begitulah kenyataannya. Semenjak Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla, tidak ada siapapun yang dapat merubahnya dan menggantinya, kecuali Allah sendiri secara langsung atau lewat rasulNya berdasarkan wahyu Allah. Dan ayat ini sama sekali tidak menolak adanya ayat Al-Qur’an yang mansukh sebagaimana telah kami jelaskan di atas.

Adapun perkataan Ustadz Abdul Qadir Hassan rahimahullah tentang ayat ini (beliau berpendapat “tidak ada ayat mansukh dalam Al-Qur’an”): “Menurut ayat ini, nyata tidak seorangpun dapat atau berhak merobah firman-firman Allah. Maka tidak patut kita mengatakan “ini mansukh” “itu mansukh”, kalau tidak ada keterangan dari yang mempunyai firman itu”. [1]

Maka kami jawab:
Benar bahwa kalau tidak ada keterangan dari Alloh yang mempunyai firman itu tidak seorangpun berhak merobah firman-firmanNya. Oleh karena itulah banyak ulama ushul fiqih yang menyatakan bahwa Naasikh (Yang menghapuskan hukum) pada hakekatnya adalah Alloh. Sehingga yang menjadi naasikh adalah dalil Al-Kitab dan As-Sunnah. Adapun ijma’ atau qiyas tidak menjadi nasikh.

Dan telah datang keterangan dari Alloh yang mempunyai firman itu, atau dari Rasulnya, atau penjelasan para sahabat –yang mereka adalah manusia terbaik setelah para nabi- tentang mansukhnya sebagian ayat Al-Qur’an. Sebagaimana hal itu disebutkan oleh para ulama ahli ushul fiqih. Dan adanya ayat Al-Qur’an yang mansukh oleh ayat lainnya dalam Al-Qur’an telah terjadi ijma’ padanya, sebagaimana akan kami sampaikan insya Alloh. Sedangkan ijma’ adalah haq, karena umat Islam tidak akan bersatu di atas kebatilan.

Adapun ayat 42 surat Al-Fushilat berbunyi:

لاَ يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Kebatilan tidak akan datang kepadanya (al-Qur'an) baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. [Al-Fushilat :42]

Ayat ini dipakai dalil oleh Abu Muslim Al-Ashfahani, seorang Mu’tazilah, tentang tidak adanya naskh dalam Al-Qur’an, karena dia menganggap naskh merupakan kebatilan. Namun pemahaman tersebut tidak benar!

Tentang maksud ayat ini, Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Yaitu: Syaithon dari kalangan syaithon-syaithon jin dan manusia tidak akan mendekatinya, baik dengan mencuri (dengar-red), memasukkan sesuatu yang bukan darinya kepadanya, menambah, ataupun mengurangi. Maka Al-Qur’an itu terjaga di saat turunnya, terjaga lafazh-lafazhnya dan makna-maknanya. (Alloh) Yang telah menurunkannya telah menjamin penjagaannya, sebagaimana Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[Al Hijr:9] [2]

Dr. Ali bin Sa’id bin Shalih Adh-Dhuweihi berkata: “Sisi pertama: Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan firman Allah: “Kebatilan tidak akan datang kepadanya (al-Qur'an)”, mungkin kebatilan (dalam ayat ini) maknanya adalah kedustaan. Yaitu: kedustaan tidak akan menyusulnya. Atau, kemungkinan yang dimaksudkan adalah bahwa kitab (Al-Qur’an) ini tidak didahului oleh kitab Allah Ta’ala yang membatalkannya, dan tidak akan datang setelahnya (kitab) yang akan membatalkannya. Sisi kedua: Kita menerima bahwa naskh adalah membatalkan hukum, sedangkan kebatilan (artinya) bukanlah membatalkan. Kebatilan adalah kebalikan dari al-haq, sedangkan naskh adalah haq, tidak ada sisi kebatilan padanya. Dan kita mungkin menambahkan sisi yang ketiga: yaitu bahwa yang dimaksudkan dengan kebatilan adalah perobahan dan penggantian sebagaimana terjadi pada kitab-kitab dahulu. Maka kebatilan dengan makna ini tertolak sama sekali dari Al-Qur’an. [Araul Mu’tazilah Al-Ushuliyyah, hal: 428-429, Syeikh Dr. Ali bin Sa’id bin Sholih Adh-Dhuweihi]

Maka ayat ini sama sekali tidak menolak adanya ayat Al-Qur’an yang mansukh, karena adanya ayat yang masukh bukanlah kebatilan, bahkan itu adalah haq, dan telah terjadi ijma’ tentang hal itu.

3. Bagaimana ucapan Abu Muslim Al-Ashfahani: “Di dalam Al-Qur’an tidak ayat yang mansukh!”.

Jawaban:
Menangapi perkataan Abu Muslim di atas, para ahli ushul berbeda pandangan, menjadi beberapa kelompok:

1. Bahwa Abu Muslim menolak adanya naskh di dalam syari’at, namun dia membolehkannya menurut akal.

Al-Amidi rahimahullah berkata: “Pengikut syari’at-syari’at telah sepakat atas bolehnya naskh secara akal dan terjadinya secara syari’at, dan tidak ada yang menyelisihi di antara umat Islam dalam hal itu kecuali Abu Muslim Al-Ashfahani. Dia menolak hal itu secara syara’ dan membolehkannya secara akal ”. [3]

Bahwa Abu Muslim menolak adanya naskh (yang mansukh) dalam ayat Al-Qur’an, menurut akal, namun dia mengakui adanya di dalam syari’at.
Muhammad bin Umar bin Al-Husain Ar-Roozi (wafat 606 H) berkata: “Umat telah sepakat atas bolehnya naskh (di dalam) Al-Qur’an. Namun Abu Muslim Al-Ashfahani mengatakan: “Tidak boleh”. [4]

Jika memang kemungkinan 1 atau 2 ini pendapat Abu Muslim Al-Ashfahani, maka pendapatnya tertolak dengan ijma’ dan dalil-dalil lainnya yang telah kami sampaikan.

2. Bahwa Abu Muslim tidak menolak adanya naskh, namun dia menamakannya dengan “takhshiish zamaniy”. Yaitu bahwa hukum itu berlaku pada waktu yang dikhususkan sebelum turunnya naasikh. Jika memang ini pendapat Abu Muslim Al-Ashfahani, maka dia hanyalah menyelisihi penamaan, bukan menyelisihi hakekat adanya naskh. Ini berarti tidak ada satu orangpun di kalangan ulama’ umat Islam yang mengingkari naskh dalam Al-Qur’an!

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Tidak diragukan bahwa mengingkari naskh merupakan perkara yang rusak, dan bahwa adanya naskh boleh/mungkin menurut akal –sebagaimana telah kami jelaskan, bahwa naskh tidak mengharuskan bada’ (nampaknya sesuatu terhadap Alloh yang sebelumnya samar). Demikian juga adanya naskh nyata secara syara’, dalilnya adalah firman Allah.

مَا نَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ

Apa saja ayat yang kami nasakhkan (hapuskan)... [Al Baqarah:106]

Dan firman Alloh Azza wa Jalla.

وَإِذَا بَدَّلْنَآ ءَايَةً مَّكَانَ ءَايَةٍ

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya. [An Nahl :101]

Dan pengingkaran Abu Muslim Al-Ashfahani (dia ini seorang Mu’tazilah!) terhadap naskh, maknanya adalah bahwa dia condong kepada (pendapat) bahwa naskh adalah pengkhususan pada zaman, bukan menghilangkan hukum, sebagaimana telah terdahulu penjelasannya”. [Mudzakiroh, hal: 126-127]

Bagaimanapun juga, maka pendapat Abu Muslim di atas adalah pendapat yang sangat ganjil di kalangan ulama Islam. Abul Husein Al-Bashri berkata: “Umat Islam telah sepakat tentang bagusnya naskh syari’at-syari’at, kecuali satu hikayat ganjil dari sebagian umat Islam, bahwa naskh itu tidak bagus”. [Al-Mu’tamad 1/370]

Imam Asy-Syaukani berkata: “Naskh boleh secara akal dan terjadi secara sam’ (agama). Tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara umat Islam, kecuali yang diriwayatkan dari Abu Muslim Al-Ashfahani, dia mengatakan bahwa naskh boleh (secara akal) namun tidak terjadi (secara syari’at). Jika (perkataan) ini benar darinya, maka ini dalil bahwa dia adalah seorang yang bodoh terhadap syari’at Nabi Muhammad dengan kebodohan yang sangat buruk. Dan lebih mengherankan lagi daripada kebodohannya adalah hikayat orang yang menghikayatkan darinya: adanya perselisihan di dalam kitab-kitab agama. Karena sesungguhnya yang dianggap (perselisihan) adalah perselisihan ahli ijtihad, bukan dengan perselisihan orang yang kebodohannya telah sampai pada puncak ini”. [5]

4. Benarkah pendapat “tidak ada nasikh mansukh dalam Al-Qur’an” adalah pendapat golongan Mu’tazilah?

Jawaban:
Itu bukan pendapat Mu'tazilah. Karena orang-orang Mu’tazilah, seperti Al-Qodhi Abdul Jabbar, Abul Husein Al-Bashri, mengakui adanya naskh. Pendapat di atas adalah pendapat ganjil dari Abu Muslim Al-Ashfahani, seorang Mu’tazilah.[6]

Wallohu a’lam bish Showwab

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016 begin_of_the_skype_highlighting              0271-761016      end_of_the_skype_highlighting]
_______
Footnote
[1]. Ushul Fiqih, hal: 60, penerbit: Fa. Al-Muslimun Bangil, cet: 2, th: 1964
[2]. Tafsi Karimir Rohman, surat Al-Fushilat: 42
[3]. Al-Ihkam 3/115, dinukil dari Aroul Mu’tazilah Al-Ushuliyyah, hal: 427, Syeikh Dr. Ali bin Sa’id bin Sholih Adh-Dhuweihi
[4]. Al-Mahshul Fii ‘Ilmi Ushul Fiqh, 1/3/460
[5]. Irsyadul Fuhul, hal: 185, dinukil dari Aroul Mu’tazilah Al-Ushuliyyah, hal: 426, Syeikh Dr. Ali bin Sa’id bin Sholih Adh-Dhuweihi
[6]. Lihat: 414-415

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Copyright © 2020.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Jumlah Pengunjung

Blog Archive

Anda Pengunjung Online

Followers