Afwan,  kata yang tak asing lagi ditelinga kita. Sering kali kita mendengar atau membaca SMS, WA,BBM saudara kita yang mengucapkan kata ini. Terlebih bila mereka melakukan suatu kesalahan, kekeliruan baik sengaja ataupun tidak.
Afwan ya,  saya telat.
Afwan banget saya lupa.
Afwan saya tidak bisa.” Dan sebagainya.
Alhamdulillah kosa kata bahasa arab satu ini mulai populer di tengah-tengah masyarakat.
Namun tahukah Saudariku jika afwan tak hanya berarti maaf?
Mari kita simak sedikit penjelasan berikut. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Definisi secara bahasa
Afwan (عفوا) atau al afwu (العفو) adalah mashdar dari fi’il ‘afaa (عفا) –  ya’fu (يعفو)
Dalam Lisanul Arab (15/72) disebutkan,
والعَفْوُ هو التجاوز عن الذنب وترك العقاب عليه
Al afwu berarti memaafkan atas kesalahan (dosa) dan membebaskan hukuman atasnya.
Al Khaliil berkata,
وكلُّ مَن استحقَّ عُقوبةً فتركْتَه فقد عفوتَ عنه. وقد يكون أن يعفُوَ الإنسان عن الشَّيء بمعنى الترك، ولا يكون ذلك عن استحقاق
“Setiap orang yang berhak mendapatkan hukuman lalu engkau membebaskanya berarti engkau telah memaafkannya. Terkadang seseorang memberi maaf atas sesuatu dengan membebaskan. Hal tersebut hanya bagi mereka yang pantas mendapatkannya.” (Maqaabisul Lughah,  4/56)

Definisi secara istilah

Arti afwan dalam Al Qur’an memiliki banyak makna diantaranya:
1. Ampunan dan permaafan (al maghfirah washshafhah)
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(QS. Al Imran: 158)
Imam Ath Thabari menjelaskan tentang kalimat,
ولقد عفا الله عنهم
Beliau berkata,
ولقد تجاوز الله عن عقوبة ذنوبهم فصفح لهم عنه
“Sungguh Allah telah memaafkan hukuman dan dosa-dosa mereka kemudian Allah memberi ampunan kepada mereka.” (Tafsir Ath Thabari )
2. Pembebasan (At Tark)
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ
“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu membebaskan atau dibebaskan oleh orang yang ikatan nikah ada ditangannya.”
(QS. Al Baqarah 237)
Adh Dhahak  berkomentar tentang ayat,
إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ
Beliau berkata,
المرأة تترك الذي لها 
“Yaitu seorang istri yang membebaskan apa yang menjadi haknya.”
Mujahid memberikan tafsir senada,
تترك المرأة شطرها 
“Istri membebaskan separuh mahar yang menjadi haknya.” (Tafsir Ath Thabari Surat Al Baqarah: 237)
3. Jumlah yang banyak (Al Kastrah)
Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا
“Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak.”(QS. Al A’Raf: 95)
Pakar tafsir dikalangan sahabat,  Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata tentang ayat,
حتى عفوا
Beliau berkata,
حتى كثروا وكثرت أموالهم
“Sampai jumlah mereka dan harta mereka bertambah banyak.”(Tafsir Ath Thabari)
Demikian inilah yang disampaikan Mujahid rahimahullah, pakar tafsir di kalangan tabi’in.
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat diatas,
أي كثروا وكثرت أموالهم وأولادهم يقال عفا الشيء إذا كثر
“Yaitu hingga jumlah mereka menjadi banyak serta harta dan anak-anak mereka. Disebut ‘afasy syaia berarti jika jumlah bertambah banyak.” (Tafsir Ibni Katsiir)
4. Kelebihan (Al Fadhl)
Allah Ta’ala berfirman,
وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” (QS. Al Baqarah: 219)
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,
ما يفضل عن أهلك
“Al Afwu adalah kelebihan dari kebutuhan keluargamu.”
Pendapat yang sama diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ka’b, Al-Hasan, Qataah, Al-Qasim, Salim, Atha Al-Khurrasani, dan Ar-Rabi’ Ibnu Anas serta lain-lainnya. Mereka mengatakan al afwu disini berarti kelebihan (sisa dari yang diperlukan). (Tafsir Ibni Katsiir)
Afwan jawaban dari kata”syukran”
Kata”syukran” jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti terimakasih. Namun secara kaidah Ilmu Nahwu syukran berasal dari kalimat,
أشكرك شكرا
“Saya bersyukur kepadamu dengan sebenar-benarnya.”(Mulakhkhas Qawa’idil Lughatil’Arabiyyah hal.70)
Kalimat diatas hanya diambil kata”syukran”nya saja.
Lalu apa kaitannya kata afwan sebagai jawaban dari syukran?
‘Afwan disini bermaksud,
أطلب العفو منك لأنك تستحق مني أكثر من ذلك.
“Aku meminta maaf kepadamu karena engkau lebih berhak mendapatkan dariku perlakuan yang lebih banyak lagi.”
Pendapat lain mengatakan,
أسألك عفواً أو أطلب منك عفواً عما بدر من نقص أو تقصير
“Aku meminta maaf kepadamu atas kekurangan dan pengabaian.
Contoh kasus misalnya A menolong B.
B Mengucapkan, “Syukran.” B bersyukur kepada A karena telah menolongnya.
A menjawab, “Afwan.” Maksdunya afwan pertolongan saya banyak kekurangannya dan karena engkau lebih berhak menerima pertolongan yang lebih baik dari saya.
Menarik bukan?
Semoga yang sedikit ini bisa menjadikan kita makin cinta dengan Bahasa Arab. Wallahua’lam.
وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين
***
Penyusun:  Ummu Fatimah –‘afallahu’anha
Maraji':
Mulakhkhash Qawa’idil Lughatil’Arabiyyah
Tafsir Ibni Katsiir
Tafsir Ath Thabari
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-70058.html
http://www.dorar.net/enc/akhlaq/1031


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar:

Post a Comment

Are you bored? Play free casino games from any web browser. Open the online casino link for more.

Google

Blog Archive

Copyright © 2015.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Kalau bukan kalian, Siapa Lagi...?

Perjuanganmu dalam membela kebenaran, tidak akan bisa ditempuh kecuali melalui ujian dan gangguan dari manusia. Betapa para Nabi telah dibunuh, seperti halnya Yahya dan Zakaria, terusir seperti halnya Musa, dipenjara seperti halnya Yusuf, dan terasing, diboikot, dan diganggu secara fisik seperti halnya Sayyidul Anbiya’, Muhammad. Barulah kemudian kebenaran menang.

@AbdulazizTarifi
– Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

Social Icons

Followers

Google+ Followers

Social Icons

Pengunjung

Follow by Email

Social Icons

Pengumuman

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.Segala Puji Hanya Milik Allah Subhanahu Wata'ala. Seluruh artikel,video dan lainnya pada blog ini di perbolehkan di sebarluaskan dengan tetap memperhatikan amanah ilmiah dan menyebutkan sumbernya. Jazaakumullahu khoiron

Free Visitor Counter

Popular Posts

Unordered List

Link

http://tentarakecilku.blogspot.com/

Pengunjung online