Fatwa Asy Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan:
Tentang firman Allah Ta’ala,
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Manusia tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah ia usahakan.” (QS. An Najm: 39)
Apakah ayat ini menunjukkan bahwa pahala tidak akan sampai kepada mayit jika saya menghadiahkan untuknya?

Jawaban:

Firman Allah Ta’ala,
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Manusia tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah ia usahakan.” (QS. An Najm: 39)
Yang dimaksudkan ayat diatas –wallahua’lam– seseorang tidak berhak mendapatkan apa yang telah diusahakan orang lain sedikitpun. Sebagaimana seseorang juga tidak memikul dosa orang lain sedikitpun. (Namun) bukan berarti ia tidak bisa menerima kiriman pahala karena usaha orang lain. Dikarenakan begitu banyak dalil shahih yang menyebutkan bahwa kiriman pahala dari seseorang bisa sampai kepada orang lain dan ia bisa mengambil manfaat darinya jika pengirim meniatkan demikian. Diantara amalan tersebut:
1. Doa
Orang yang didoakan akan mendapatkan manafaat dari doa orang lain untuknya. Berdasarkan dalil dari Al Qur’anul Kariim,  sunnah dan ijma’ kaum muslimin.
Allah Ta’ala memerintahkan kepada NabiNya shallallahu’alaihi wasallam,
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan dosa kaum beriman laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)
Firman Allah Ta’ala,
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang“.(QS. Al Hasyr:10)
Orang yang terdahulu beriman mereka adalah kaum Muhajirin dan Anshar. Adapun orang beriman setelah mereka yaitu orang-orang yang mengikuti jalan mereka sampai hari kiamat.
Juga terdapat contoh dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam tatkala beliau memejamkan mata Abu Salamah (saat meninggal) . Beliau berdoa,
اللهم اغفر لأبي سلمة وارفع درجته في المهديين، واخلفه في عقبه، وافسح له في قبره، ونور له فيه
Ya Allah ampunilah Abu Salamah. Angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang engkau beri petunjuk, gantikanlah bagi keluarganya, lapangkanlah kuburnya dan berilah cahaya didalamnya.
Praktek yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wasallam dimana beliau menyolati jenazah kaum muslimin serta mendoakan mereka, menziarahi kubur mereka serta mendoakan keluarga yang ditinggalkan. Perbuatan beliau ini diikuti oleh seluruh umat beliau sampai-sampai menjadi perkara yang diketahui oleh setiap muslim.
Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu’alahi wasallam,
ما من رجل مسلم يموت فيقوم على جنازته أربعون رجلاً لا يشركون بالله شيئاً إلا شفعهم الله فيه.
“Tidaklah seorang muslim meninggal, kemudian dishalati empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun kecuali Allah kabulkan syafa’at mereka terhadapnya.”
Hal ini tidaklah bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang lain,
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له
“Jika Bani Adam mati maka terputuslan amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah,  ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya.”(HR. Muslim)
Karena yang dimaksudkan hadits diatas adalah amal si mayit itu sendiri bukan amal orang lain yang dihadiahkan untuknya. Hanya saja, Nabi menjadikan doa anak shalih termasuk amalan si mayit karena anak tersebut bagian dari usahanya. Dimana orang tua menjadi sebab anak tersebut menjadi shalih. Seakan-akan doa anak shalih kepada orangtuanya itu sama seperti doa orang tua tersebut kepada dirinya sendiri. Hal ini statusnya tentu berbeda denga doa orang selain anak kepada saudaranya. Karena dia bukan bagian dari amalannya, meskipun sama-sama memberi manfaat (bagi si mayit).
Ringkasnya,  pengecualian yang disebutkan dalam hadits diatas adalah amalan si mayit itu sendiri bukan amalan orang hidup yang dihadiahkan untuknya. Karena itu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak bersabda,
انقطع العمل له
“Terputus amalan untuknya.”
Akan tetapi beliau bersabda,
انقطع عمله
“Terputus amalnya.”
Antara kedua kalimat diatas sangat jelas bedanya.
2. Bersedekah atas nama mayit
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari’Aisyah radhiyallahu’anha bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam,
إن أمي افتلتت نفسها (ماتت فجأة)، وأظنها لو تكلمت تصدقت، فهل لها أجر إن تصدقت عنها؟ قال: “نعم
“Sesungguhnya ibuku mati mendadak. Saya yakin kalau seandainya beliau sempat bicara, beliau akan bersedekah. Apakah pahala bisa sampai kepada ibuku jika saya bersedekah atas namanya?
Nabi shallallahu’alaihi wasallam menjawab,  “Iya,  bisa.” (HR. Muslim dan yang lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Sedekah adalah ibadah murni dengan harta.
3. Puasa atas nama mayit
Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari’Aisyah radhiyallahu’anha bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
من مات وعليه صيام صام عنه وليه
“Barangsiapa yang meninggal masih memiliki tanggungan puasa maka walinya yang  berpuasa atas namanya.”
Wali adalah ahli waris dari si mayit. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. A l Anfal: 75)
Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا، فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَر
“Bagilah harta warisan kepada ahli warisnya. Adapun sisanya diberikan kepada laki-laki (paling dekat kekerabatannya).” (Muttafaqun Alaih)
Puasa adalah ibadah badan yang murni.
-Bersambung Insyallah-
Sumber: http://ar.islamway.net
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com
السؤال: هل قوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} يدل على أن الثواب لا يصل إلى الميت إذا أهدي له؟
الإجابة: قوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى}، المراد -والله أعلم- أن الإنسان لا يستحق من سعي غيره شيئاً، كما لا يحمل من وزر غيره شيئاً؛ وليس المراد أنه لا يصل إليه ثواب سعي غيره؛ لكثرة النصوص الواردة في وصول ثواب سعي الغير إلى غيره وانتفاعه به إذا قصده به، فمن ذلك:
1 – الدعاء: فإن المدعو له ينتفع به بنص القرآن الكريم والسنة وإجماع المسلمين، قال الله تعالى لنبيه صلى الله عليه وسلم: {واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات}، وقال تعالى: {والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم}، فالذين سبقوهم بالإيمان هم المهاجرون والأنصار، والذين جاؤوا من بعدهم هم التابعون فمن بعدهم إلى يوم الدين؛ وثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه أغمض أبا سلمة، وقال: “اللهم اغفر لأبي سلمة وارفع درجته في المهديين، واخلفه في عقبه، وافسح له في قبره، ونور له فيه”، وكان صلى الله عليه وسلم يصلي على أموات المسلمين، ويدعو لهم، ويزور المقابر، ويدعو لأهلها، واتبعته أمته في ذلك حتى صار هذا من الأمور المعلومة بالضرورة من دين الإسلام؛ وصح عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال: “ما من رجل مسلم يموت فيقوم على جنازته أربعون رجلاً لا يشركون بالله شيئاً إلا شفعهم الله فيه…”.
وهذا لا يعارض قول النبي صلى الله عليه وسلم: “إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له” (رواه مسلم)، لأن المراد به عمل الإنسان نفسه، لا عمل غيره له؛ وإنما جعل دعاء الولد الصالح من عمله؛ لأن الولد من كسبه، حيث إنه هو السبب في إيجاده، فكأن دعاءه لوالده دعاء من الوالد نفسه، بخلاف دعاء غير الولد لأخيه، فإنه ليس من عمله -وإن كان ينتفع به-، فالاستثناء الذي في الحديث من انقطاع عمل الميت نفسه لا عمل غيره له، ولهذا لم يقل: “انقطع العمل له”، بل قال: “انقطع عمله”، وبينهما فرق بيّن.
2 – الصدقة عن الميت: ففي صحيح البخاري عن عائشة رضي الله عنها أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم: إن أمي افتلتت نفسها (ماتت فجأة)، وأظنها لو تكلمت تصدقت، فهل لها أجر إن تصدقت عنها؟ قال: “نعم”، وروى مسلم نحوه من حديث أبي هريرة رضي الله عنه، والصدقة عبادة مالية محضة.
3 – الصيام عن الميت: ففي الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “من مات وعليه صيام صام عنه وليه”، والولي هو الوارث؛ لقوله تعالى: {وأولوا الأرحام بعضهم أولى ببعض في كتاب الله إن الله بكل شيء عليم}، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: “ألحقوا الفرائض بأهلها، فما بقي فهو لأولى رجل ذكر” (متفق عليه)؛ والصيام عبادة بدنية محضة.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar:

Post a Comment

Are you bored? Play free casino games from any web browser. Open the online casino link for more.

Google

Blog Archive

Copyright © 2015.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Kalau bukan kalian, Siapa Lagi...?

Perjuanganmu dalam membela kebenaran, tidak akan bisa ditempuh kecuali melalui ujian dan gangguan dari manusia. Betapa para Nabi telah dibunuh, seperti halnya Yahya dan Zakaria, terusir seperti halnya Musa, dipenjara seperti halnya Yusuf, dan terasing, diboikot, dan diganggu secara fisik seperti halnya Sayyidul Anbiya’, Muhammad. Barulah kemudian kebenaran menang.

@AbdulazizTarifi
– Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

Social Icons

Followers

Google+ Followers

Social Icons

Pengunjung

Follow by Email

Social Icons

Pengumuman

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.Segala Puji Hanya Milik Allah Subhanahu Wata'ala. Seluruh artikel,video dan lainnya pada blog ini di perbolehkan di sebarluaskan dengan tetap memperhatikan amanah ilmiah dan menyebutkan sumbernya. Jazaakumullahu khoiron

Free Visitor Counter

Popular Posts

Unordered List

Link

http://tentarakecilku.blogspot.com/

Pengunjung online