Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah
Pertanyaan:
Bagaimanakah duduk yang sesuai sunnah tatkala makan di atas tanah?  Aku mendengar ada 3 cara duduk yang dianjurkan tetapi tidak ada dalil yang menyebutkan ketiganya. Saya mengharapkan penjelasan dalil akan hal ini?
Jawaban:
Alhamdulillah,
Pertama,

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لَا آكُلُ مُتَّكِئًا
“Aku tidak makan sambil duduk itka’.”
Itka’ yaitu semua cara duduk yang bisa membuat tenang dan santai saat makan. Karena duduk semacam ini mendorong seseorang makan lebih banyak sementara hal ini tercela dalam syariat.
Oleh karena itu Imam Nawawi berkata,
لَا آكُل أَكْل مَنْ يُرِيد الِاسْتِكْثَار مِنْ الطَّعَام وَيَقْعُد لَهُ مُتَمَكِّنًا, بَلْ أَقْعُد مُسْتَوْفِزًا, وَآكُل قَلِيلًا
“Makna hadits diatas, ‘Aku tidaklah makan makanan seperti orang yang ingin banyak makan lalu dia mengambil posisi duduk yang nyaman. Namun aku duduk seperti orang yang akan bangkit serta makan sedikit.” (Syarh Muslim)
Al Haafidz Ibnu Hajar menjelaskan,
“(Para ulama)  berbeda pendapat tentang cara duduk itka’. Ada yang berpendapat itka’ adalah semua jenis duduk yang bisa membuat nyaman saat makan bagaimanapun posisinya. Pendapat lain mengatakan itka’ yaitu duduk miring ke salah satu sisi (kanan atau kiri). Ada yang mngatakan itka’ adalah duduk dengan bersandar pada tangan kiri (yang tegak diatas) tanah.
Al Khathabi mengatakan,  “Orang awam mengira bahwa duduk itka’ saat makan berarti makan sambil duduk miring ke salah satu sisi saja. Anggapan ini tentu tidak benar. Bahkan duduk itka’ itu dengan cara duduk dengan bersandar pada alas yang ada dibawahnya. Sehingga makna hadits tersebut adalah ‘Aku tidak duduk santai diatas bantal saat makan seperti yang dilakukan orang yang menyantap banyak makanan. Aku tidaklah makan kecuali secukupnya sesuai kebutuhan. Karena itu aku duduk seperti orang yang hendak bangkit.” Fathul Baari (9/541), Ma’aalimussunan Al Khathabi (4/242), Zaadul Ma’aad (4/202)
Al Qari berkata dalam Al Mirqah,
“Dinukil dalam Asy Syifa’ dari ulama peneliti bahwa mereka mendefinisikan itka’ adalah duduk santai, tenang saat makan seperti duduk bersila di atas alas. Karena posisi duduk seperti ini mendorong seseorang banyak makan dan termasuk gaya duduk orang sombong. (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud 10/244)
Kedua,
Adapun posisi duduk yang dianjurkan bagi orang yang hendak makan.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا
“Aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam duduk iq’a saat makan kurma.” (HR. Muslim No 3807)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
“Duduk iq’a yaitu menegakkan kedua telapak kaki lalu duduk diatas kedua tumitnya. Maksud beliau shallallahu’alaihi wasallam makan seperti ini agar beliau tidak tenang saat duduk dan tidak makan banyak. Karena umumnya orang yang duduk iq’a tidak bisa tenang sehingga tidak banyak makan. Sebaliknya jika seseorang duduk tenang, santai maka umumnya akan banyak makan.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menegaskan, “Posisi duduk yang disunnahkan saat makan yaitu duduk dengan bertumpu pada kedua lutut dan kedua punggung telapak kaki atau duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.”
Kesimpulan
3  jenis duduk yang dianjurkan ketika makan:
  1. Duduk iq’a
  2. Duduk bertumpu pada kedua lutut dan punggung telapak kaki.
  3. Duduk diatas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,  “Yang paling baik hendaknya seseorang tidak duduk santai, tenang saat makan agar tidak menyebabkan dirinya makan terlalu banyak. Karena banyak makan tidak pantas dilakukan (seorang muslim).” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Sumber:http://islamqa.info/ar/171848
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
duduk-wanitasalihah
Artikel WanitaSalihah.Com
السؤال:
ما هي السنة في كيفية الجلوس على الأرض أثناء تناول الطعام؟ لقد سمعت ثلاث طرق ولكن لا دليل على أي منها.. فأرجوا التوضيح بالدليل.
الجواب :
الحمد لله
أولاً :
روى البخاري (4979) عن أبي جحيفة رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( لَا آكُلُ مُتَّكِئًا ) .
ومعنى الاتكاء : كل جِلْسة يكون الأكل فيها متمكناً مطمئناً ، لأن ذلك مدعاه ليأكل كثيراً ، وهو مذموم شرعاً .
ولهذا قال النووي :
“وَمَعْنَاهُ : لَا آكُل أَكْل مَنْ يُرِيد الِاسْتِكْثَار مِنْ الطَّعَام وَيَقْعُد لَهُ مُتَمَكِّنًا, بَلْ أَقْعُد مُسْتَوْفِزًا, وَآكُل قَلِيلًا ” انتهى من “شرح مسلم” .
قال الحافظ رحمه الله : ” واختلف في صفة الاتكاء فقيل أن يتمكن في الجلوس للآكل على أي صفة كان وقيل أن يميل على أحد شقيه وقيل أن يعتمد على يده اليسرى من الأرض. قال الخطابي: تحسب العامة أن المتكئ هو الأكل على أحد شقيه وليس كذلك بل هو المعتمد على الوطاء الذي تحته قال ومعنى الحديث إني لا أقعد متكئاً على الوطاء عند الأكل فعل من يستكثر من الطعام، فإني لا آكل إلا البلغة من الزاد، فلذلك أقعد مستوفزاً ” انتهى من “فتح الباري”(9/541)، وينظر معالم السنن للخطابي(4/242) وينظر أيضاً وزاد المعاد لابن القيم(4/202)
وقال القاري في المرقاة : ” نقل في الشفاء عن المحققين أنهم فسروه بالتمكن للأكل والقعود في الجلوس كالمتربع المعتمد على وطاء تحته؛ لأن هذه الهيئة تستدعي كثرة الأكل وتقتضي الكبر” انتهى من “عون المعبود شرح سنن أبي داود”(10/244).
ثانياً :
أما كيفية الجلوس لمن أراد أن يأكل ، فقد روى مسلم في صحيحه (3807) عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: “رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا” .
قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: ” والإقعاء أن ينصب قدميه ويجلس على عقبيه هذا هو الإقعاء وإنما أكل النبي صلى الله عليه وسلم كذلك لئلا يستقر في الجلسة، فيأكل أكلا كثيراً؛ لأن الغالب أن الإنسان إذا كان مقعياً لا يكون مطمئنا في الجلوس فلا يأكل كثيراً وإذا كان غير مطمئن فلن يأكل كثيراً وإذا كان مطمئناً، فإنه يأكل كثيراً هذا هو الغالب…” انتهى من شرح “رياض الصالحين” .
وقال الحافظ رحمه الله : ” فالمستحب في صفة الجلوس للآكل أن يكون جاثياً على ركبتيه وظهور قدميه أو ينصب الرجل اليمني ويجلس على اليسرى…” انتهى من “فتح الباري”
فهذه ثلاث جلسات للآكل :
1ـ الإقعاء..
2ـ أن يعتمد على ركبتيه وظهور قدميه.
3ـ أن يجلس على اليسرى وينصب اليمنى.
وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: “…ولكن أحسن ما يكون ألا تجلس جلسة الإنسان المطمئن المستقر لئلا يكون ذلك سبباً لإكثار الطعام وإكثار الطعام لا ينبغي” انتهى من شرح “رياض الصالحين”
والله أعلم
وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar:

Post a Comment

Are you bored? Play free casino games from any web browser. Open the online casino link for more.

Google

Blog Archive

Copyright © 2015.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Kalau bukan kalian, Siapa Lagi...?

Perjuanganmu dalam membela kebenaran, tidak akan bisa ditempuh kecuali melalui ujian dan gangguan dari manusia. Betapa para Nabi telah dibunuh, seperti halnya Yahya dan Zakaria, terusir seperti halnya Musa, dipenjara seperti halnya Yusuf, dan terasing, diboikot, dan diganggu secara fisik seperti halnya Sayyidul Anbiya’, Muhammad. Barulah kemudian kebenaran menang.

@AbdulazizTarifi
– Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

Social Icons

Followers

Google+ Followers

Social Icons

Pengunjung

Follow by Email

Social Icons

Pengumuman

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.Segala Puji Hanya Milik Allah Subhanahu Wata'ala. Seluruh artikel,video dan lainnya pada blog ini di perbolehkan di sebarluaskan dengan tetap memperhatikan amanah ilmiah dan menyebutkan sumbernya. Jazaakumullahu khoiron

Free Visitor Counter

Popular Posts

Unordered List

Link

http://tentarakecilku.blogspot.com/

Pengunjung online