Mantan Pandita Hindu ditanya :
Menurut
pemahaman sebagian ummat Islam, orang yang meninggal jika tidak
diadakan selamatan (kenduri) maka rohnya akan gentayangan. Apakah
pemahaman seperti itu ada dalam agama Hindu ?
Jawab :
Kepercayaan
yang ada pada sebagian ummat Islam, orang yang meninggal jika tidak
diadakan selamatan (kenduri: 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari dst, /red )
maka rohnya akan gentayangan adalah jelas-jelas berasal dari ajaran
agama Hindu. Dalam agama Hindu ada syahadat yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepada Sang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa.
Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena
bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No.
192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara
(menitis/reinkarnasi).
Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi :“Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.
Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu.”
____________________________________________________
PANDANGAN ISLAM
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا
“Dan
mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit”. (QS Al Israa’ : 85)
قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُون
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُون
…..”Ya
Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding [Barzakh] sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al Mu’minun : 99-100)
_________________________
MASAIL DINIYAH KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDATUL ULAMA Ke 5 Di Pekalongan Pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H/ 7 September 1930. No. 101
Pertanyaan :
Apakah roh orang mukmin pada tiap-tiap malam Jum’at, Hari Raya, Hari Asyura atau malam Nisfu Sya’ban, datang dan berdiri di muka pintu rumah keluarganya ? Bersadaqahlah untuk si mayit tersebut sesudah menguburnya, pahalanya berlaku sampai 3 hari. Bersadaqahlah dihari 3 itu, maka pahalanya sampai 7 hari. Bersadaqahlah di hari ke 7 itu, maka pahalanya sampai 40 hari. Bersadaqahlah dihari ke 40 itu, maka pahalanya sampai 100 hari dan dari 100 sampai setahun !
Apakah roh orang mukmin pada tiap-tiap malam Jum’at, Hari Raya, Hari Asyura atau malam Nisfu Sya’ban, datang dan berdiri di muka pintu rumah keluarganya ? Bersadaqahlah untuk si mayit tersebut sesudah menguburnya, pahalanya berlaku sampai 3 hari. Bersadaqahlah dihari 3 itu, maka pahalanya sampai 7 hari. Bersadaqahlah di hari ke 7 itu, maka pahalanya sampai 40 hari. Bersadaqahlah dihari ke 40 itu, maka pahalanya sampai 100 hari dan dari 100 sampai setahun !
Jawab :
Keterangan seperti itu adalah KEDUSTAAN dan tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.
Keterangan seperti itu adalah KEDUSTAAN dan tidak terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.
MASAIL
DINIYAH KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDATUL ULAMA Ke 5 Di Pekalongan Pada
tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H/ 7 September 1930. No. 101, [dengan keterangan yang disingkat dari teks aslinya, selengkapnya silahkan dilihat pada hasil scan halaman buku di bawah ini; discan oleh Anwar Baru Belajar].
____________________________________________________
KEPUTUSAN
MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) Ke-1 di SurabayaMASALAH DINIYYAH NO: 18
/ 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 M. Lihat halaman : 11.
TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH
TANYA :
Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya ?
Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya ?
JAWAB :
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu………….dst.
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu………….dst.
KETERANGAN :
Dalam kitab: 1. I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz, 2. Al Fatawa al Kubra.
Dalam kitab: 1. I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz, 2. Al Fatawa al Kubra.
————————————————————————————
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Tempat Arwah Setelah Meninggal, Arwah Gentayangan Dan Berkomunikasi Dengan Manusia Serta Cara Bebas Dari Gangguan Arwah Jahat
Pertanyaan Dari:
Nama dan alamat diketahui redaksi
(disidangkan pada hari Jum’at, 29 Muharram 1431 H / 15 Januari 2010)
Nama dan alamat diketahui redaksi
(disidangkan pada hari Jum’at, 29 Muharram 1431 H / 15 Januari 2010)
Pertanyaan:
Di manakah tempat arwah manusia setelah meninggal? Benarkah ada arwah manusia bergentayangan di bumi, bahkan berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup? Bagaimana kita bisa terbebas dari gangguan-ganguan arwah jahat?
Di manakah tempat arwah manusia setelah meninggal? Benarkah ada arwah manusia bergentayangan di bumi, bahkan berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup? Bagaimana kita bisa terbebas dari gangguan-ganguan arwah jahat?
Terima kasih.
Jawaban :
Majlis
Tarjih dan Tajdid Divisi Fatwa mengucapkan terima kasih atas
pertanyaannya. Sebelum menjawab pertanyaan Saudara tentang posisi ruh
(arwah) manusia yang telah meninggal, terlebih dulu ingin kami paparkan
beberapa hal yang ada hubungannya dengan masalah itu.
Pertama,
tentang alam, bahwa alam itu terbagi menjadi tiga, yaitu alam dunia,
alam barzakh dan alam akhirat. Ketiga jenis alam itu memiliki status dan
aturan sendiri. Alam dunia adalah refleksi dari jasad sedangkan ruh
sebagai bagiannya, namun sebaliknya alam barzakh adalah refleksi dari
ruh sedangkan jasad sebagai bagiannya. Dan terakhir alam akhirat atau
Dar al-Qarar adalah alam setelah kebangkitan manusia dari kuburnya untuk
mendapatkan balasan, di mana jasad dan ruh digabungkan kembali.
Kedua,
kematian atau maut adalah berpisahnya ruh dengan jasad, dan ketika
pemisahan tersebut terjadi, ruh berada di alam barzakh atau alam kubur.
Ibarat perjalanan waktu, manusia yang sudah pindah ke alam lain itu
tidak akan kembali ke alam semula. Ruh manusia yang sudah pindah ke alam
barzakh juga tidak akan kembali ke alam dunia. Ketiga, barzakh secara
bahasa berarti pembatas antara dua hal, dan di sini maksudnya pembatas
antara alam dunia dengan alam akhirat.
Dengan
demikian, ketika seorang meninggal (mati, berpisah jasad dari ruhnya),
maka ia tidak akan kembali ke alam dunia. Pada hari kiamat nanti,
orang-orang kafir akan memohon kepada Allah agar dikembalikan lagi ke
dunia untuk beramal shalih, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan oleh
Allah. Ada beberapa pendapat tentang keberadaan ruh setelah meninggal
hingga hari kiamat. Dari sekian banyak pendapat yang ada, tidak satu pun
yang menerangkan bahwa ada ruh yang gentayangan. Ruh orang-orang
beriman berada di alam barzakh yang luas, yang di dalamnya ada
ketenteraman dan rezeki serta kenikmatan, sedangkan ruh orang-orang
kafir berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya hanya ada
kesusahan dan siksa. Allah berfirman:
حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي
أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ
قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ[المؤمنون (23): 99-100]
Artinya: “(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada
seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke
dunia). agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku
tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai
hari mereka dibangkitkan”.” [QS. al-Mukminun (23): 100]
Memang
ada sebagian kalangan yang berkeyakinan dan menyatakan bahwa ruh orang
Islam yang meninggal akan berputar-putar di sekitar rumahnya selama satu
bulan sejak meninggalnya dan setelah itu berputar-putar sekitar
makamnya selama satu tahun. Keyakinan tersebut berdasarkan pada hadits
yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا
مَاتَ الْمُؤْمِنُ حَامَ رُوْحُهُ حَوْلَ دَارِهِ شَهْرًا فَيَنْظُرُ
إِلَى مَنْ خَلَفَ مِنْ عِيَالِهِ كَيْفَ يَقْسِمُ مَالَهُ وَكَيْفَ
يُؤَدِّيْ دُيُوْنَهُ فَإِذَا أَتَمَّ شَهْرًا رُدَّ إِلَى حَفْرَتِهِ
فَيَحُوْمُ حَوْلَ قُبْرِهِ وَيَنْظُرُ مَنْ يَأْتِيْهِ وَيَدْعُوْلَهُ
وَيَحْزِنُ عَلَيْهِ فَإِذَا أَتَمَّ سَنَةً رُفِعَ رُوْحُهُ إِلَى حَيْثُ
يَجْتَمِعُ فِيْهِ اْلأَرْوَاحُ إِلَى يَوْمِ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ .
Artinya : (Diriwayatkan) dari Abu
Hurairah r.a., dari Rasulullah saw bahwa apabila seorang mukmin
meninggal dunia, maka arwahnya berkeliling-keliling diseputar rumahnya
selama satu bulan. Ia memperhatikan keluarga yang ditinggalkannya
bagaimana mereka membagi hartanya dan membayarkan hutangnya. Apabila
telah sampai satu bulan, maka arwahnya itu dikembalikan ke makamnya dan
ia berkeliling –keliling di seputar kuburannya selama satu tahun, sambil
memperhatikan orang yang mendatanginya dan mendoakannya serta yang
bersedih atasnya. Apabila telah sampai satu tahun, maka arwahnya
dinaikkan ditempat dimana para arwah berkumpul menanti hari ditiupnya
sangkakala.
Namun setelah ditelusuri dan diteliti,
yaitu menggunakan Program al-Maktabah asy-Syamilah (edisi 2), Program
al-Jami’ al-Akbar (edisi 2), dan Program al-Jami’ al-Kabir (edisis 4,
2007-2008) kami tidak menemukan sumber hadits yang dinyatakan di atas.
Dapat dinyatakan bahwa hadits yang sedang kita selidiki ini tidak
tercantum dalam satupun dari sumber-sumber orisinal hadits yang ada.
Oleh karena itu, apa yang ditanyakan,
bahwa ada ruh-ruh yang bergentayangan itu adalah setan yang melakukan
tipu daya dengan menyerupai orang yang sudah meninggal. Dan ketika ruh
akan dibangkitkan dari alam barzakh (alam kubur) ke alam akhirat, ruh
itu dikembalikan ke jasad yang baru yang diciptakan untuk alam akhirat.
Begitu juga kaitannya dengan Jin, bahwa Jin itu makhluk yang dapat
menjelma atau merubah fisiknya menyerupai bentuk manusia atau
makhluk-makhluk yang lain. Setan yang berasal dari Jin, ingin
menyebarkan tipu daya dan keraguan pada keimanan manusia, maka salah
satu caranya adalah dengan menjelma menyerupai seseorang yang telah
meninggal. Akibat dari penjelmaan tersebut, orang-orang yang melihat
menganggap dan berkeyakinan bahwa yang mereka lihat adalah ruh dari
orang yang mereka kenal sebelumnya. Oleh karena itu, apa yang dikatakan
oleh kaum awam tentang adanya ruh gentayangan tidaklah benar menurut
ajaran Islam.
Tentunya agar kita bisa terbebas dari
gangguan-ganguan arwah jahat yang itu merupakan setan yang melakukan
tipu daya, yaitu dengan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah swt, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhkan
segala larangan-Nya yang merupakan jalan setan, serta senantiasa
berdzikir dan mengingat Allah. Bukankah dengan senantiasa berdzikir hati
kita akan tenang, sebagaimana dalam firman-Nya:
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [الرعد (13): 28]
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS.
ar-Ra’d (13): 28]
Adapun mengenai kemungkinan adanya
komunikasi antara manusia yang masih hidup dengan orang yang sudah
meninggal juga tidak benar, sampai para Nabi dan wali yang telah
meninggal sekalipun, tidak bisa berkomunikasi dengan manusia yang masih
hidup. Memang ada firman Allah:
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ [ال عمران (3): 169]
Artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup
di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” [QS. Ali Imran (3): 169]
Demikian juga hadis Nabi saw yang
diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, Hayat al-Anbiya fi
Quburihim, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلْأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ. [رواه البيهقى]
Artinya: “Para Nabi itu hidup di dalam kubur mereka senantiasa dalam keadaan shalat.” [HR. al-Baihaqi]
Namun
demikian, maksud ayat di atas adalah menjelaskan tentang adanya bentuk
kehidupan yang dialami para Syuhada dan para Nabi setelah mereka
meninggal. Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan secara khusus yang
tidak dapat diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah swt. Dan mengenai
hadits di atas, setelah diteliti dan ditelusuri sumber haditsnya, kami
menemukan ada rawi yang dinilai bermasalah yaitu Hasan bin Qutaibah dan
Husain bin ‘Arafah yang mengakibatkankedha’ifan kualitas hadits diatas.
Wallahu a’lam.
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
E- mail: tarjih_ppmuh@yahoo.com dan ppmuh_tarjih@yahoo.comhttp://tarjihmuhammadiyah.blogspot.com
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
E- mail: tarjih_ppmuh@yahoo.com dan ppmuh_tarjih@yahoo.comhttp://tarjihmuhammadiyah.blogspot.com
*************
Wallahu a’lam.
Sahabatmu : Anwar Baru Belajar, Februari 9, 2013/ aslibumiayu
Wallahu a’lam.
Sahabatmu : Anwar Baru Belajar, Februari 9, 2013/ aslibumiayu
(nahimunkar.com)
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer