- Bukti bawa Paradigma Baru LDII hanya kata-kata belaka.
- Cawapres JK Dibalik Aliran Sesat Ahmadiyah, LDII, dan Syiah
Meskipun
LDII telah mengaku bahwa mereka kini pakai paradigma baru, namun
ternyata Bekas Tempat Shalat Mantan Muballigh LDII langsung dipel oleh
aktivis LDII.
Itu
dialami dan diceritakan kepada nahimunkar.com oleh mantan muballigh
LDII di Jakarta, Ahad 11 Mei 2014. Sang mantan LDII kelahiran Makassar
dan kini di Jakarta ini bersama dua orang mantan petinggi LDII sudah
mengadukan kesesatan-keseatan LDII ke Menteri Agama SDA (Suryadharma
Ali) 25 Oktober 2013 . Meskipun Menag SDA yang kini jadi tersangka kasus
korupsi penyelenggaraan haji itu kedekatannya dengan para pentolan LDII
telah terbukti, hingga mengangkat pentolan LDII sebagai anggota Amirul
Haj Indonesia 2012, namun mantan LDII ini bersama teman-temannya berani
“melabrak” SDA dan menunjukkan bukti-bukti kesesatan LDII.
Perlakuan
LDII menganggap najis kepada selain jamaahnya itu, lanjut sang mantan
LDII ini, bukan hanya berupa mengepel bekas tempat shalat, namun
langsung pula mencuci sajadah yang dia tempati untuk shalat ketika dia
bertamu ke rumah familinya yang masih aktif di LDII di Jakarta Selatan
belum lama ini.
Dengan
sungguh-sungguh, mantan LDII ini menceritakan kepada nahimunkar.com,
bahwa kejadian itu bukan sekadar cerita tetapi benar-benar nyata.
Karena pengepelan lantai dan pencucian sajadah secara langsung itu
terjadi dua kali berturut-turut.
Pertama,
dia numpang shalat maghrib di rumah familinya yang dia kunjungi itu.
Sehabis shalat maghrib, mantan muballigh LDII ini keluar untuk suatu
keperluan. Begitu dia kembali ke rumah familinya yang pendakwah LDII
tersebut, ternyata lantai bekas dia shalat dalam keadaan basah habis
dipel, dan sudah ada sajadah tergantung di hanger masih menetes habis
dicuci.
Dia
pun bertanya, kenapa lantainya basah dan sajadahnya dicuci, lalu
dijawab oleh pemilik rumah bahwa sudah lama tidak dicuci. Padahal
menurut mantan LDII ini, sajadah itu tadinya masih ada bau pewangi
molto, berarti adalah sajadah yang baru saja kering dari dicuci kemudian
disediakan untuk sang tamu.
Kedua,
ketika masuk waktu isya’, mantan muballigh LDII ini pun numpang shalat
lagi di tempat ia bertamu ini. Setelah shalat, dia keluar lagi untuk
suatu urusan. Begitu dia kembali lagi ke tempat familinya yang masih
aktif di LDII itu, ternyata lagi-lagi lantainya basah habis dipel, dan
sudah ada satu sajadah lagi (yaitu yang untuk shalat Isya’ tadi)
digantung dalam keadaan masih menetes habis dicuci.
Mantan muballigh LDII ini pun bertanya
lagi seperti semula, kenapa dipel dan dicuci. Dijawab, tadi ada kucing
masuk dan seterusnya.
Dari
kenyataan yang dialami langsung ini, mantan muballigh LDII yang punya
ijazah resmi sebagai muballigh LDII (namun kemudian sadar akan banyaknya
tipuan dan kesesatan di LDII maka dia keluar dari LDII) ini tambah kuat
tekadnya untuk mendesak lagi kepada Menteri Agama agar memprakarsai
bagaimana caranya agar difahami dan diketahui masyarakat umum bahwa
ajaran LDII masih seperti Islam Jamaah yang telah dilarang oleh Jaksa
Agung RI tahun 1971. Kalau toh Menag SDA ada halangan karena kejeblos
jadi tersangka korupsi, lalu disuruh mundur dari jabatannya sebagai
menag oleh Presiden SBY, maka Bahrul Hayat, orang penting di Kemenag
yang pernah berjanji kepada para mantan LDII untuk menjembatani adanya
acara berhadapan dengan LDII demi membuktikan dan membeberkan kesesatan
LDII, hendaknya janji itu diwujudkan.
Disamping
itu mantan muballigh LDII ini menjelaskan, kini sekitar 3.000-an orang
telah keluar dari aliran sesat LDII di berbagai daerah di Indonesia.
Bahkan orang yang setia merawat Amir LDII Abdu Dhohir (mendiang), anak
Nurhasan Ubaidah pendiri Islam Jamaah, yang Amir LDII itu sakit
berlama-lama, kemudian sang petugas setia merawat Amir itupun keluar
dari LDII bersama keluarganya. Karena telah tahu betul
kesesatan-kersesatan LDII, menurut keterangan mantan muballigh LDII ini.
Ditambahkan,
kini pengganti Amir yang telah meninggal, Abdul Aziz Sultan Aulia yang
juga anak Nurhasan Ubaidah, sudah sakit-sakitan. Hingga apakah dalam
acara nasional LDII 13-15 Mei 2014 di Jakarta itu sang Amir kuat hadir
atau tidak, belum terdengar bagi mantan LDII ini. Masih pula ditambah
dengan persoalan tipuan LDII dalam kasus yang dikenal dengan Bisnis
Maryoso, kini para pemilik uang yang merasa tertipu, mereka ramai-ramai
menagih ke pihak pusat LDII yang terlibat kasus itu. Ratusan miliar
rupiah jumahnya yang dituntut oleh para pemiliknya untuk dibayar oleh
para pentolan LDII yang terlibat kasus penipuan itu. Kasus itu sendiri
dapat dibaca di buku “Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah” terbitan LPPI Jakarta.
Perlu diketahui, dalam masalah LDII dan aliran sesat lainnya, ada rekomendasi dari MUI.
Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya
MUI dalam Musyawarah Nasional VII di
Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti
Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar
ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan
masyarakat.
Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:
“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.
MUI
mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai
ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya,
karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah
Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian
secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang
berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa
tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih
dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah.
Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam
pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).
Cawapres JK Dibalik Aliran Sesat Ahmadiyah, LDII, dan Syiah
Sudah
ada rekomendasi MUI tahun 2005 tentang sesatnya Ahmadiyah dan LDII,
namun Jusuf Kalla waktu jadi Wapres-nya SBY justru menggagalkan akan
diumumkannya pelarangan Ahmadiyah oleh Depag, Kejagung, dan Polri tahun
2008. Hingga atas “jasa buruk” JK itu sampai kini Ahmadiyah belum
dilarang, walau jelas-jelas menodai Islam.
Tindakan
buruk Jusuf Kalla yang sengaja menjegal akan diumumkannya perlarangan
Ahmadiyah oleh Depag, Kejaksaan Agung, dan Polri tahun 2008 itu bermakna
membela pengikut agama nabi palsu Ahmadiyah. Itu atas bisikan (buruk
yakni tingkah syetan) Azyumardi Azra dari UIN Jakarta. (Lihat
artikelCawapres Jusuf Kalla dan Ar-Rajjal Sang Pembela Nabi Palsu http://www.nahimunkar.com/cawapres-jusuf-kalla-dan-ar-rajjal-sang-pembela-nabi-palsu/
JK
(Jusuf Kalla) bukan hanya membela pengikut nabi palsu, namun juga minta
dukungan kepada aliran sesat LDII untuk pilpres 2009. Apa hasilnya ?
Walaupun telah didoakan oleh « ulama » aliran sesat LDII, namun ternyata
JK keok dalam plipres 2009. (lihat JK Minta Dukungan Aliran Sesat LDII
untuk Piplres 2009 dan Keok – See more at: http://www.nahimunkar.com/jk-minta-dukungan-aliran-sesat-ldii-untuk-piplres-2009-dan-keok/#sthash.asXglBov.dpuf)
Tampaknya
JK (yang sudah cukup tua dan telah berjanji akan pulang kampong dan
membangun masjid ini tahu-tahu) justru akan mengulangi keoknya (?) lagi,
dengan mencawapreskan diri untuk diusung PDIP degan capres Jokowi.
Pantas saja, baik Jokowi maupun JK kini beredar videonya tentang
ucapan-ucapan bohongnya. Videonya beredar luas tentang itu. Masih pula
JK dikenal sebagai pembela aliran sesat Ahmadiyah, dan syiah sebagaimana
diuraikan dalam tulisan Cawapres Jusuf Kalla Pembela Aliran Sesat
Ahmadiyah dan Syiah – See more at: http://www.nahimunkar.com/cawapres-jusuf-kalla-pembela-aliran-sesat-ahmadiyah-dan-syiah/#sthash.lgizQevZ.dpuf
Apakah
JK ingin mengulangi minta dukungan kepada aliran sesat LDII yang kini
sedang gonjang-ganjing lantaran para pentolan LDII harus membayar duit
yang mereka tilep atas nama bisnis Maryoso ratusan miliar itu? Dan
apakah JK mau minta didoakan oleh “ulama” aliran sesat LDII yang kini
jamaahnya saja sudah banyak yang tidak percaya kepadanya, hingga menurut
mantan muballigh LDII (kelahiran Makassar tinggal di Jakarta) sudah
3.000 orang yang keluar dari LDII?
Mungkin
JK dan LDII kini sama-sama galau (menurut bahasa gaul anak muda).
Sedang JK dan Jokowi sama-sama dikenal sebagai pembohong, menurut video
yang beredar luas.
(nahimunkar.com)
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer