A. Jangan Kau Duakan Ibadahmu
Kesyirikan tidak hanya terjadi pada zaman jahiliah saat Rasulullah belum diutus. Kesyirikan juga merebak di masa kini meski dikemas dengan bungkus baru. Kehati-hatian agar tidak terjatuh pada perbuatan syirik sangatlah penting karena Allah menyebut perbuatan ini sebagai dosa besar yang paling besar dan tidak akan memberi ampunan bagi pelakunya kecuali jika ia telah bertaubat.
Awal Terjadinya Kesyirikan
Allah menciptakan jin dan manusia dengan suatu tujuan, yang dengannya Allah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam mewujudkan tujuan tersebut. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut tujuan penciptaan jin dan manusia:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan dari mereka sedikit pun dari rezeki. Dan Aku tidak menginginkan sedikit pun dari mereka untuk memberi-Ku makan. Sesungguhnya Dia, Allah Maha Pemberi rezeki, Pemilik kekuatan lagi sangat kokoh.” (adz-Dzariyat: 56—58)
Sesungguhnya, tugas yang diemban jin dan manusia sangatlah ringan bila dibandingkan dengan segala jenis kenikmatan yang telah Allah limpahkan. Akan tetapi untuk mewujudkan perkara yang ringan ini, butuh pengorbanan dan perjuangan yang sangat besar, karena rintangan dan penghalang di jalan ini juga sangatlah besar.
Dengan tugas ini, bukan berarti Allah butuh kepada hamba sehingga kita diperintah untuk sujud dan ruku’ di hadapan-Nya. Akan tetapi sebagai perwujudan semata-mata kebutuhan kita kepada Allah. Karena kita sadar bahwa setiap saat, tidak ada satu makhluk pun yang tidak membutuhkan-Nya. Oleh karena itu, Allah menetapkan bahwa di sana ada tali penghubung antara diri hamba-Nya dengan Allah. Itulah ibadah.
Amanat ibadah ini diakui oleh semua orang. Namun dalam praktiknya sangat terkait dengan fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Artinya, apabila fitrahnya belum disentuh oleh penyimpangan dan segala bentuk noda yang mengotori, tentu dia akan menyambut tugas tersebut sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Sebaliknya, bila fitrah itu rusak maka perwujudan ibadah akan bisa diarahkan kepada selain Pemiliknya. Allah menjelaskan keberadaan fitrah ini dalam firman-Nya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (ar-Rum: 30)
Rasulullah bersabda:
 
“Setiap anak dilahirkan di atas kesucian, kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 2658 dari hadits Abu Hurairah)
Ayat dan hadits di atas, secara gamblang menjelaskan bahwa asal kehidupan seseorang di muka bumi ini adalah kesucian fitrah yaitu Islam. Ini sebagai bantahan untuk kelompok Mu’tazilah yang mengatakan bahwa asal kehidupan manusia adalah kufur.
Di atas kemurnian fitrah inilah, Allah menurunkan kemurnian agama-Nya yang meliputi ajaran dan aturan, perintah dan larangan, keterangan tentang tauhid dan syirik, serta sunnah dan bid’ah. Di atas kesucian fitrah ini pula, setiap orang akan menyambut seruan syariat tersebut.
Adapun orang yang telah ternodai fitrahnya, ia akan mengelak dengan berbagai cara untuk bisa keluar dari larangan, ancaman, dan perintah sehingga bebas merdeka tanpa ada aturan yang mengikat. Berjalan sekehendaknya, melakukan apa yang diinginkan tanpa mengindahkan aturan-aturan yang ada.
Siapakah yang menjadi dalang kerusakan ini? Kapankah kerusakan itu mulai terjadi? Kerusakan terbesar apakah yang menimpa fitrah seseorang?
Dalang kerusakan fitrah manusia itu adalah iblis dan bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia. Allah menerangkan dalam firman-Nya:
“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu manusia.” (al-An’am: 112)
“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa.” (al-Furqan: 31)
Kesyirikan di Masa Nabi Nuh
Usaha iblis dan tentaranya untuk merusak fitrah manusia dimulai ketika dia dijauhkan dari rahmat Allah menjadi terkutuk dan terlaknat, serta divonis menjadi calon penghuni neraka. Keberhasilan yang “gemilang” adalah pada kurun kesepuluh masa Nabi Nuh. Dengan kata lain, terjadinya penyimpangan fitrah besar-besaran adalah pada generasi Nabi Nuh.
Ibnu ‘Abbas berkata ketika menafsirkan firman Allah:
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kalian dan jangan sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (Nuh: 23)
“Berhala-berhala yang dulu disembah oleh kaum Nabi Nuh telah menjadi (sesembahan) di negeri Arab setelahnya. Wadd adalah (sesembahan) Bani Kalb di Daumatul Jandal, Suwa’ adalah (sesembahan) Bani Hudzail, Yaghuts adalah sesembahan Bani Murad dan Bani Guthaif di Jauf (negeri Saba’), Ya’uq (sesembahan) Bani Hamdan, dan Nasr (sesembahan) Bani Himyar pada keluarga Dzil Kala’. Mereka adalah nama orang-orang saleh pada kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada orang-orang agar membuat berhala/gambar di majelis-majelis mereka dan memerintahkan, ‘Namakanlah dengan nama-nama mereka (orang-orang saleh tersebut).’
Mereka melakukannya dan (pada waktu itu berhala tersebut) belum disembah hingga mereka (para pembuat berhala) binasa dan ilmu terlupakan (dihapus), maka berhala itu menjadi sesembahan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 4599)
Inilah kerusakan paling besar dan yang pertama kali menimpa fitrah manusia di masa Nabi Nuh. Yaitu kerusakan i’tiqad (keyakinan) yang berwujud kesyirikan kepada Allah. Kerusakan ini pula yang menimpa umat Rasulullah sampai hari kiamat. Pada akhirnya, di atas kerusakan ini mereka mendapat kehinaan dan penghinaan, kerendahan dan perendahan, malapetaka demi malapetaka, kehancuran, kerusakan, kemunduran, dan sebagainya. Sunnatullah ini telah menimpa umat Rasulullah sehingga hidup mereka harus terwarnai dengan kesyirikan di dunia. Bahkan apa yang mereka lakukan telah mencapai puncaknya di mana menjadikan kesyirikan sebagai wujud ketauhidan kepada Allah dan kecintaan kepada wali-wali Allah.
Tentang kebenaran sunnatullah ini, dijelaskan Rasulullah di dalam haditsnya:
 
“Kalian benar-benar akan mengikuti langkah umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Kalaupun seandainya mereka masuk ke lubang binatang dhab (semacam biawak), niscaya kalian akan memasukinya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 3456, Muslim no. 2669 dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri)
Kesyirikan Sebelum Diutusnya Rasulullah
Sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, umat ini akan terus mengikuti langkah umat sebelumnya. Tentunya juga tidak terlepas dari mengikuti mereka dalam peribadatan kepada selain Allah. Hal yang demikian ini akan terjadi sampai hari kiamat. Rasulullah bersabda:
“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai kabilah-kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik.” (HR. Abu Dawud no. 4252, Ibnu Majah no. 3952, serta disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, 3/801 no. 3577 dan dalam Shahih Ibnu Majah, 2/352 no. 3192 dari sahabat Tsauban)
 
Sebelum Rasulullah diutus, bangsa Arab terbagi menjadi dua. Satu kelompok mengikuti agama-agama terdahulu seperti agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Sedangkan satu kelompok lagi mengikuti agama Nabi Ibrahim yang lurus, terlebih di negeri Hijaz, Makkah al-Mukarramah. Sampai pada akhirnya muncul seseorang yang bernama ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i, seorang pemuka di negeri Hijaz. Dia dikenal sebagai ahli ibadah, saleh, dan sebagainya.
Suatu waktu, ia pergi ke negeri Syam untuk berobat. ‘Amr bin Luhai melihat penduduk negeri Syam menyembah berhala dan dia menganggap baik perbuatan tersebut. Pulang dari Syam, ‘Amr bin Luhai membawa patung, lantas setelahnya juga membawa patung yang digali dari peninggalan kaum Nuh. Lalu dia membagikannya kepada kabilah Arab dan memerintahkan untuk menyembahnya. Orang-orang pun menyambut dan menerima seruan tersebut hingga akhirnya kesyirikan memasuki negeri Hijaz dan negeri lainnya.
 
Rasulullah bersabda tentang ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i,
 
“Aku menyaksikan ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i menarik isi perutnya di dalam neraka.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 3521 dan Muslim no. 2856 dari sahabat Abu Hurairah, lihat Syarah Masa’il al-Jahiliah karya asy-Syaikh Shalih Fauzan dan Mukhtashar Sirah karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hlm. 12)
Islam dan Syirik
Syirik merupakan suatu praktik ibadah kepada selain Allah. Dengan kata lain, menjadikan tandingan bagi Allah dalam sebuah wujud peribadatan. Atau memalingkan peribadatan yang semestinya diberikan kepada Allah kepada selain-Nya. Ini merupakan wujud kezaliman dan kegelapan karena memberikan hak peribadatan kepada selain Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)
Islam adalah agama rahmat, agama keselamatan, dan agama yang terang-benderang, malamnya seperti siangnya. Diturunkan Allah sebagai agama nikmat yang telah diridhai-Nya.
“Pada hari ini Aku sempurnakan agama kalian dan Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (al-Maidah: 3)
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
“Barang siapa mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima oleh Allah dan dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Islam sangat menentang segala bentuk kesyirikan, memerangi segala bentuk kezaliman, dan menyinari kegelapan hidup dengan lentera wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kesyirikan bukan dari Islam sedikit pun sehingga (tidak pantas) dihidupkan. Kesyirikan bukan lambang tauhid yang harus diperjuangkan. Kesyirikan adalah agama iblis dan tentara-tentaranya. Kesyirikan adalah kesesatan, kehinaan, kerendahan, kegelapan, kezaliman, kegagalan, dan kehancuran dunia akhirat.
Wallahu a’lam.
 
Sumber: http://www.asysyariah.com/
B. Hati-Hati Dari Sikap Berlebihan Pada Orang Sholih
Salah satu prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah memberikan sikap loyalitas (cinta) kepada siapa saja yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Dan orang-orang shalih termasuk suatu tho’ifah (golongan) terbaik dari umat Islam, sehingga mereka mendapatkan kecintaan, pujian dan nikmat dari Allah Ta’ala karena telah berhasil meniti shirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Allah Ta’ala berfirman :

(artinya): “Maka mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang Allah anugerahi nikmat atas mereka, dari kalangan para Nabi, shiddiqin (orang-orang yang benar keimanannya), syuhada’, dan orang-orang shalih, dan mereka itu adalah sebaik-baik teman”. (QS. An Nisa’ : 69)

Maka mereka termasuk orang-orang yang berhak mendapatkan wala’ (loyalitas) dari kaum muslimin. Namun yang wajib diketahui, bahwa sikap wala’ yang akan mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan balasan di sisi-Nya, bukan wala’ (kecintaan) yang dilandasi dengan hawa nafsu, akan tetapi suatu kecintaan yang dilandasi Al Qur’an dan As Sunnah.

Umat manusia dalam menilai keberadaan orang-orang shalih terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama : Golongan yang meremehkan atau merendahkan kedudukan yang Allah berikan kepada mereka (tafrith).
Kedua : Golongan yang memiliki sikap pengkultusan dan pengagungan melebihi batas dari apa yang Allah Ta’ala karuniakan kepada mereka (ifrath).
Ketiga : Golongan yang adil dan tidak berbuat tafrith (meremehkan) maupun ifrath terhadap mereka.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai sikap adil didalam menyikapi orang-orang shalih, yaitu tidak menghinakan dan merendahkan kedudukan orang-orang shalih, bahkan memuliakan dan memuji mereka dengan tidak melebihi ketentuan syariat. Sebagaimana Allah Ta’ala menjelaskan dalam banyak ayat-Nya, diantaranya :

(artinya): “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil”. (Al Hujuraat: 9)

Dan juga firman-Nya :

(artinya): “Dan demikianlah Kami jadikan kalian menjadi umat yang adil”. (Al Baqarah: 143)

Demikian pula Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan ghuluw (ekstrim). Allah Ta’ala berfirman :

(artinya): “Wahai Ahlul Kitab janganlah kalian berbuat ghuluw (ekstrim) dalam beragama, dan jangan pula kalian mengatakan tentang Allah kecuali di atas kebenaran”. (An Nisa’: 171)

Ghuluw adalah sikap melampaui batas dalam memuji dan mencela (sesuatu/seseorang).

Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Walaupun khitob (sasaran) mengarah kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashara), namun khitob (sasaran) ini bersifat umum mencakup seluruh umat, sebagai tahdzir (peringatan) dari sikap Nashara terhadap Isa Ibnu Maryam (mereka meyakini Isa anak Allah atau tiga dari yang satu -trinitas- red) dan sikap Yahudi terhadap Uzair (meyakini Uzair anak Allah atau menganggap Isa adalah anak pezina - red).(Fathul Majid jilid 1, hal. 21)

Mengingat siapa saja yang diantara umat ini yang menyerupai Yahudi dan Nashara, dan berbuat ghuluw di dalam beragama dengan cara ifrath (melampaui batas) atau pun tafrith (meremehkannya), maka sungguh ia telah menyerupai mereka. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Fathul Majid jilid 1, hal. 272)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka”.

Oleh karena itu beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam mewanti-wanti kepada umatnya, supaya jangan berbuat ghuluw kepada diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri. Seperti halnya Yahudi dan Nashara telah terjatuh dalam perbuatan ghuluw. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

“Janganlah kalian berbuat ghuluw kepadaku sebagaimana Nashara telah berbuat ghuluw kepada Ibnu Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah Abdullah dan Rasul-Nya”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

“Berhati-hatilah kalian dari bersikap ghuluw, karena sesungguhya celakanya orang-orang sebelum kalian adalah karena berbuat ghuluw.” (HR. Al Bukhari)

“Binasalah orang-orang yang melampaui batas (ghuluw), (beliau berkata sampai tiga kali)”. (HR. Muslim)

Awal Mula Terjadinya Kesyirikan

Awal mula munculnya kesyirikan di muka bumi adalah sikap ghuluw (ekstrim) kepada orang-orang shalih, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abdullah bin Abbas Radiyallahu ‘anhu dalam riwayat Al Imam Al Bukhari, ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (artinya):

“Dan mereka berkata : “Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan pula meninggalkan wad, suwa’, yaghuts, ya’uq,dan nasr”. Beliau Radiyallahu ‘anhu berkata : “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh, tatkala mereka meninggal, syaithan membisikkan kepada kaumnya: “Buatlah patung-patung mereka di majlis-majlis mereka dahulu (seperti monomen-monomen- red), dan namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Kemudian kaum tersebut melakukannya dan belum sampai pada penyembahannya, hingga akhirnya kaum itu meninggal (digantikan oleh kaum berikutnya – red) dan dihapuskanlah ilmu, maka patung-patung tersebut pun disembah”.

Berkata Ibnul Qoyyim: “Lebih dari seorang dari ulama’ Salaf berkata: “Tatkala orang-orang shalih tersebut telah meninggal, manusia pun beri’tikaf dan membikin gambar atau patung di samping kuburan mereka, kemudian setelah berganti dari generasi ke genarasi berikutnya, mereka pun menyembahnya”. (Lihat Fathul Majid: 264)

Bagaimana Bentuk-Bentuk Ghuluw Dan Akibatnya ?

Pada pembahasan kali ini hanya mengacu kepada akibat dari sikap ghuluw (ekstrim) yang menyebabkan pelakunya terjatuh ke dalam kesyirikan atau perkara-perkara sebagai wasilah (perantara) menuju kesyirikan, karena jenis-jenis ghuluw terhadap mereka sangat banyak sekali. Bentuk-bentuk ghuluw yang terjadi dan bisa dicermati sendiri oleh kaum muslimin, diantaranya:

1. Menganggap bahwa beribadah seperti sholat atau berdo’a dihadapan gambar, patung, kuburan orang shalih lebih mendatangkan rasa khusu’ dan khudhu’ kepada Allah Ta’ala. Ini merupakan bentuk ibadah yang bid’ah, munkar dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya radiyallahu ‘anhum. Sebatas membuat gambar atau patung dari benda yang bernyawa saja, dia telah melanggar peringatan keras dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

“Sesungguhnya adzab yang paling pedih pada hari kiamat nanti adalah para tukang gambar”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Juga menentang perkataan Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Dan sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, mereka dahulu menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid-masjid, maka ketahuilah janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang dari perbuatan seperti itu”. (HR. Muslim)

Dan setiap tempat yang digunakan untuk sholat, maka dinamakan sebagai masjid, walaupun tidak ada bangunannya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata:

“Telah dijadikan bumi untukku sebagai masjid dan untuk bersuci”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

2. Berkeyakinan bahwa berdo’a kepada Allah Ta’ala sambil bertawasul dengan orang shalih yang sudah mati lebih diterima oleh Allah Ta’ala. Hal ini juga merupakan perkara yang bathil dan haram, karena tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, bahkan Umar Radiyallahu ‘anhu ketika di jamannya ditimpa paceklik, beliau tidak bertawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sudah wafat, namun Umar Radiyallahu ‘anhu meminta kepada paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala.(Fatawa Arkanul Islam lisy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 182)

Padahal Allah Ta’ala berfirman :

(artinya): “Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku, maka sesungguhnya Aku amat dekat dan Aku mengabulkan orang yang berdo’a jika dia berdo’a kepada-Aku”. (QS. Al Baqarah: 186)

Bahkan Allah Ta’ala mengolok-olok orang-orang yang lalai lagi bodoh ketika menjadikan sebagian hamba-Nya sebagai wasilah, padahal orang-orang shalih tersebut butuh pada wasilah berupa ketaatan (amalan shalih) kepada-Nya dan tidak ada cara lain yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala :

(artinya): “Mereka orang-orang yang diseru juga mencari wasilah menuju kepada Robb-Nya! siapa yang lebih dekat (kepada Allah- red) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya”. (QS. Al Isra’: 58)

3. Meyakini bahwa para wali atau orang shalih mengetahui ilmu ghaib.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah imam para rasul, tidaklah mengetahui perkara yang ghaib atau perkara yang akan terjadi apalagi mereka yang bukan termasuk dari kalangan para Nabi. Allah Ta’ala berfirman :

(artinya): “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfatan pada diriku dan tidak pula mampu menolak kemudhorotan kecuali yang di kehendaki oleh Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhoratan”. (Al A’raf: 188)

4. Meyakini bahwa wali atau orang shalih mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot atau mampu menjawab do’anya orang yang berdo’a kepada mereka ketika masih hidup ataupun sudah mati. Hal ini merupakan kesyirikan yang nyata dan jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para nabi dan rasul. Allah Ta’ala berfirman :

(artinya): “Maka janganlah kamu berdo’a (beribadah) selain dari Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan pula memberi mudhorot padamu, kalau sekiranya kamu kerjakan sungguh kamu termasuk orang-orang yang dholim”. (QS. Yunus: 106)

Dan juga Allah Ta’ala berfirman :

(artinya): “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada dapat memperkenakan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”?. (Al Ahqaf:5)

Ini hanya sebagian kecil dan masih banyak lagi dari perbuatan dhahir (mu’amalah) ataupun i’tiqodiyyah (amalan batin) yang melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang shalih.

Tanya-Jawab

Tanya : Bagaimana rihlah atau safar hanya dalam rangka ziarah ke kubur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam , para wali dan sunan?

Jawab : Hal itu tidak boleh, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

“Janganlah kalian berkeinginan untuk safar kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsho”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah melarang kecuali ada hikmahnya, yaitu sebagai bentuk saddudz dzari’ah (tindakan preventif) supaya tidak terjatuh dalam perbuatan ghuluw dan ini menunjukkan kasih sayang beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umat Islam. Dan sebaliknya jika kaum muslimin melanggar anjuran beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka pasti akan terjatuh ke dalam fitnah. Maka apabila para pembaca mencermati apa yang dilakukan para peziarah ke kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam atau wali-wali, bukan hanya berdo’a dan istighotsah saja bahkan sampai ruku’ dan sujud semata-mata untuk ahli kubur dalam keadaan khusyu’ dan khudhu’ (penghinaan diri) yang tidak bisa dihadirkan kondisi seperti itu ketika beribadah di masjid-masjid Allah Ta’ala . Wallahul Musta’an.

Sumber: www.salafy.or.id


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar:

Post a Comment

Copyright © 2019.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Jumlah Pengunjung

Follow by Email

Blog Archive

Anda Pengunjung Online

Followers