(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 04 Tahun XIII)

Berbagai media dunia gencar memberitakan kemajuan duniawi yang dicapai oleh orang-orang Barat. Ini menunjukkan kekaguman mereka terhadap orang-orang Barat. Maraknya pemberitaan ini telah mengecoh sebagian kaum Muslimin, terutama orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama serta kawula muda. Mereka menganggap semua produk Barat berarti baik dan unggul, tanpa menimbangnya dengan tinjauan agama atau dengan akal sehat. Akhirnya, terjadilah berbagai peristiwa memilukan yang bisa kita lihat atau kita dengar saat ini.
Berbagai kerusakan, kemorosotan akhlak serta perubahan sikap anak terhadap orang tua semakin meresahkan. Penggunaan teknologi informasi yang mengalami kemajuan pesat dengan tanpa pengawasan ikut andil mempercepat proses perusakan. Handphone dan internet termasuk di dalamnya. Dengan dalih kemajuan dan kebebasan, syubhat disebarkan dengan berbagai cara yang menipu serta nafsu syahwat dibangkitkan dan disalurkan tanpa aturan. Pihak yang berusaha menghadang gerak para tentara setan ini dilabeli dengan gelar menakutkan. Di antaranya digelari fundamental, jumud (statis) atau bahkan ada yang menyematkan gelar teroris. Iyâdzan billâh (semoga Allâh Ta'âla melindungi kita semua).
Minimnya ilmu agama yang dimiliki oleh masyarakat, turut memperlaju gerak para perusak. Si anak tidak mengetahui hak dan kewajiban terhadap orang tua atau orang lain, begitu juga orang tua; mereka tidak peduli dengan pendidikan dan bimbingan serta merasa tidak perlu mengawasi pergaulan anak. Mereka memandang dengan memenuhi kebutuhan fisik serta menyekolahkan di sekolah favorit, sudah cukup. Ilmu agama diposisikan pada nomor sekian. Padahal kebahagian yang mereka cari hanya bisa didapatkan dalam ketenangan hati. Allâh Ta'âla Pencipta manusia, yang Maha Tahu tentang hakikat manusia telah memberitahukan dalam firman-Nya:
(Qs ar-Ra’d/13:28)
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(Qs ar-Ra’d/13:28)

Juga firman-Nya :
(Qs Thâha/20:124)
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku,
Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
(Qs Thâha/20:124)

Tidakkah kita mau merenunginya? Allâh Ta'âla berfirman yang maknanya :
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk menundukkan hati mereka mengingat Allâh Ta'âla
dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?,
dan janganlah mereka seperti orang-orang yang
sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya"
(Qs al-Hadîd/57:16)

Satu kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, akan menyeretnya kepada kesalahan-kesalahan berikutnya, jika tidak segera bertaubat. Ketidak-pedulian para orang tua terhadap ilmu agama berdampak pada penyia-nyiaan pendidikan agama si buah hati. Bagaimana bisa membimbing, kalau dia sendiri tidak memiliki ilmu? Akibatnya, generasi harapan yang tumbuh tanpa bimbingan agama akan mudah terperosok dalam perangkap setan yang dipoles agar kelihatan indah yaitu pergaulan bebas.
Jika sudah demikian, maka menenggak minuman keras atau barang haram lainnya, zina dan berbagai perbuatan nista lainnya seakan menjadi sebuah keniscayaan. Termasuk di antaranya aborsi dengan dalih memelihara atau menjaga nama baik. Adakah manusia yang berakal sehat yang mengatakan bahwa semua ini adalah sebuah kemajuan? Hanya manusia yang sudah terpedaya dengan tipu daya setan yang mengatakan demikian. Bagi mereka, nafsu syahwat adalah komandonya, karena akal sehat mereka sudah rusak. Mereka menganggap segala yang dikehendaki nafsu itulah sebuah kebaikan, sebaliknya yang tidak dikehendaki nafsu syahwat berarti buruk dan tidak modern. Nas’alullâh ‘afiyah. Semoga Allâh Ta'âla menyelamatkan kita dari segala yang mendatangkan keburukan dunia maupun akhirat.
Islam sebagai agama yang datang dari Allâh Ta'âla telah menetapkan berbagai syari’at (aturan). Penerapan syari’at-syari'at ini, selain sebagai ibadah kepada Allâh Ta'âla juga sebagai tameng bagi perilaku tak senonoh dan tak manusiawi. Misalnya, larangan berkhalwat (berdua-duaan) serta larangan berjabatan tangan antara laki dan perempuan yang bukan mahramnya, larangan meniru-meniru orang-orang kafir, perintah menjaga pandangan mata dan perintah memilih teman yang agamanya baik. Syari’at-syari’at Islam ini, selain sebagai ibadah kepada Allâh Ta'âla juga merupakan langkah penangkalan terhadap berbagai keburukan, karena ia menutup celah-celah yang berpotensi dimanfaatkan setan untuk menjerumuskan manusia. Penerapannya akan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak.
Tidakkah kita mau mengambil pelajaran? Hendaknya kita bersemangat menuntut ilmu agama dan menerapkannya sesuai dengan kemampuan kita dan menjauhi semua larangan-larangan Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya. Dengan demikian, kemungkaran insya Allâh dapat dicegah dan generasi berikutnya yang menjadi harapan akan terselamatkan.
Hanya kepada Allâh Ta'âla kita memohon agar kita dianugerahi ilmu yang bermanfaat; juga memohon hidayah agar bisa melaksanakan agama ini dengan baik serta istiqamah dan terhindar dari keburukan yang menggandeng keburukan lainnya. 
sumber: http://majalah-assunnah.com/


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar:

Post a Comment

Copyright © 2019.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Jumlah Pengunjung

Follow by Email

Blog Archive

Anda Pengunjung Online

Followers