Doa


Doa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Di samping itu, doa merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah. Dan doa merupakan bukti ketergantungan seorang hamba kepada Rabbnya dalam meraih segala perkara yang bermanfaat dan menolak segala perkara yang membawa mudharat bagi mereka. Doa merupakan bukti kecondongan seorang hamba kepada Allah, bahwasannya tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah.

Perbanyaklah Doa

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa dirinya tidak selayaknya banyak meminta kepada Allah, dia mengang­gap hal itu sebagai suatu aib, menilainya sebagai sikap kurang bersyukur kapada Allah atau bertentangan dengan sifat qana’ah. Akhirnya ia tidak meminta kepada Allah Ta’ala kecuali dalam perkara-perkara yang dia anggap penting atau mendesak. Sedang dalam masalah-masalah yang sepele ia enggan memintanya kepada Allah. Ini jelas sebuah kekeliruan dan suatu kejahilan. Karena doa adalah suatu ibadah dan Allah marah jika seorang hamba enggan meminta kepada-Nya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya doa adalah ibadah.” [Hadits riwayat Ahmad (lV/267) dan Abu Dawud (1479) dan At-Tirmidzi (2969) dan dishahihkan olehnya, dan Ibnu Majah (3828) dan Al-Hakim (1/491) dan dishahihkannya, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dan Ibnu Hibban (887h/II/124) dalam Kitab Al-Ihsan. Dan Al-Baihaqi dalam Asy­-Syu'ab (1105) dan Ibnu Abi Syaibah (29167h/VI/21) dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (105) dan Ibnu Jarir dalam Tafsirnya (Nomor 1 3038/11) dari Nu'man bin Basyir. Silakan lihat Shahih al-Jami' (3407)]
Kemudian beliau membaca ayat:
“Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk api Neraka dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Doa ini akan memberikan manfaat atas seizin Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
“Doa itu bermanfaat bagi apa-apa yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi, hendaklah kalian banyak­banyak berdoa wahai hamba-hamba Allah.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi (3048) dan AI-Hakim (1/493) dari Ibnu Umar. Shahih al-Jami' (3409)]
Seorang muslim selayaknya banyak berdoa setiap waktu, karena doa merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada doa.” [Hadits riwayat Ahmad (11/362) dan At-Tirmidzi (3370) dan dihasankannya, dan Al-Hakim (1/390) dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan yang lainnya dari Abu Hurairah. Silahkan lihat Shahih aJ-Jami' (S392).]

Doa Tidak Pernah Membawa Kerugian

Orang yang meninggalkan doa adalah orang yang paling merugi. Sebaliknya seorang yang berdoa tidak akan pernah merugi atas doa yang ia panjatkan, selama ia tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutuskan tali silaturrahim. Karena doa yang ia panjatkan pasti disambut oleh Allah, bisa dengan mewujudkan apa yang ia minta di dunia, atau mencegah keburukan atas dirinya yang setara dengan apa yang ia minta, atau menyimpannya sebagai pahala yang lebih baik baginya di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada seorang yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah akan mengabulkan apa yang ia minta, atau Allah menahan keburukan atas dirinya yang semisal dengan apa yang ia minta, selama ia tidak berdoa untuk suatu per­buatan dosa atau untuk memutuskan tali silaturrahim.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ahmad. Dan dishahihkan oleh AI-AI bani dalam Shahih aJ-Jami' (S678).]
Oleh karena itu, janganlah seorang hamba merasa keberatan meminta kepada Rabbnya dalam urusan-urusan dunianya, meskipun urusan yang sepele, terlebih lagi dalam urusan akhirat. Karena permintaan itu merupakan bukti keter­gantungan yang sangat kepada Allah dan kebutuhannya kepada Allah Ta’ala dalarn semua urusan. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan:
“Sesungguhnya barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi (3373) dan Ibnu Majah (3727) dari Abu Hurairah.
Silakan lihat dalam Shahih At-Tirmidzi (2686).]

Oleh karena itu, dahulu para salaf senantiasa berdoa kepada Allah sampai-sampai ada di antara mereka yang ber­doa agar rasa garam bisa terasa pada makanannya.
- shalihah.com -

Sumber: Panduan Amal Sehari Semalam, Penulis Abu Ihsan al-Atsary dan Ummu Ihsan Choiriyah, Pustaka Darul Ilmi hal 99-102



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar:

Post a Comment

Copyright © 2019.Junedi Ubaidilllah. Powered by Blogger.

Jumlah Pengunjung

Follow by Email

Blog Archive

Anda Pengunjung Online

Followers